Dua Gaya, Dua Pintu (Episode 2): Terbuka di Atas, Tertutup di Bawah!

Bupati tasikmalaya
Gambar ilustrasi: AI.ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di episode pertama, kita bicara soal pintu. Kini kita masuk ke dalam ruangannya.

Di era Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto, banyak yang mengatakan beliau sulit ditemui. Jadwal ketat. Protokol rapi. Semua serba terstruktur. Bertemu bupati seperti mengurus visa: harus sabar, harus sesuai jadwal.

Namun setelah pintu utama itu terbuka, jalur ke bawah relatif lancar. Sekda menjelaskan. Kadis mau bicara. ASN tidak terlalu canggung memberi data.

Baca Juga:Tujuh Belas Tahun Mengetuk Pintu, Tahun Ini Mayasari Peduli Salurkan 12.943 Paket SembakoObrolan Dua Orang Penting Gerindra!

Komunikasi berjalan vertikal. Dari atas ke bawah jelas. Dari bawah ke publik relatif terkendali.

Sekarang, di era Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin, suasananya berbeda. Pintu utama lebih ramah. Bupati lebih mudah ditemui. Lebih cair. Lebih komunikatif. Tidak banyak sekat protokoler.

Tetapi ketika pembicaraan masuk ke teknis—angka, detail program, progres kegiatan—jawaban sering berhenti di permukaan.

Dan ketika diarahkan ke dinas terkait, pintunya terasa lebih berat. Seolah struktur terbalik. Atasan terbuka. Bawahan menutup diri.

Gaya kepemimpinan memang bukan soal benar atau salah. Ia soal karakter. Ade dikenal administratif. Sistematis. Banyak keputusan lahir dari pola kerja birokratis yang disiplin.

Cecep lebih komunikatif. Lebih politis dalam arti positif—membangun relasi dan kedekatan sosial. Namun birokrasi bukan hanya soal gaya personal. Ia soal orkestrasi.

Jika konduktor memberi ruang improvisasi terlalu lebar, pemain bisa ragu masuk.

Jika konduktor terlalu kaku, pemain bisa kehilangan kreativitas.

Baca Juga:Kapolres Hariwang!Pertamina Turunkan Satgas RAFI Selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 H

Yang dibutuhkan adalah harmoni. Kini muncul persepsi yang berkembang di kalangan ASN: ada kehati-hatian berlebih untuk berbicara.

Entah karena takut salah ucap. Takut kebijakan belum final. Atau takut berbeda tafsir dengan pimpinan. Padahal pejabat publik justru diuji dari kemampuannya menjelaskan.

Transparansi bukan ancaman. Ia pelindung. Dalam konteks APBD, program, hingga proyek fisik, publik hanya butuh satu hal, kejelasan.

Di era Ade, mungkin pintu atas sulit diketuk, tapi lampu ruang bawah menyala.

Di era Cecep, pintu atas terbuka lebar, tapi lorong ke bawah terasa remang.

Itulah dua gaya. Yang satu membangun sistem dari struktur. Yang satu membangun pendekatan dari relasi. Tasikmalaya kini berada di titik penting, menyatukan keterbukaan personal dengan ketegasan struktural.

0 Komentar