TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah naik-turunnya daya beli warga Kota Tasikmalaya, tradisi berbagi tetap menemukan jalannya.
Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya (PTT) kembali membagikan ribuan nasi kotak untuk warga prasejahtera menjelang waktu berbuka puasa, Selasa (3/3/2026).
Tanpa panggung, tanpa spanduk besar, hanya nasi kotak dan niat baik yang berjalan dari tangan ke tangan.
Baca Juga:Program Ramadan JNE Dongkrak Arus Kiriman, Promo Mudik hingga Diskon Ongkir Jadi Mesin PertumbuhanGerakan Pangan Murah di Kota Tasikmalaya: Harga Diturunkan, Antrean Warga Dinaikkan
Tahun ini, sebanyak 2.000 paket nasi kotak disiapkan dan disalurkan di sedikitnya lima titik berbeda di Kota Tasikmalaya.
Sasaran penerima adalah warga yang secara ekonomi membutuhkan, mulai dari pekerja serabutan, lansia, hingga keluarga dengan penghasilan tidak tetap.
Ketua Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya, Tjong Djoen Mien atau akrab disapa Ko Acong, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan agenda dadakan.
Tradisi berbagi ini telah berjalan konsisten setiap Ramadan, bahkan sejak jauh sebelum pandemi Covid-19.
“Ini kegiatan rutin setiap tahun. Kami berbagi nasi kotak, dan semuanya kami pesan dari UMKM lokal,” ujarnya usai pembagian di Jalan Cilembang.
Skema itu sengaja dipertahankan. Selain membantu warga yang membutuhkan, kegiatan ini juga menjadi suntikan napas bagi pelaku usaha mikro dan kecil di Tasikmalaya.
Dengan kata lain, satu nasi kotak menggerakkan dua arah kebaikan: perut kenyang dan roda ekonomi tetap berputar.
Baca Juga:Habis Beli Ban, Supir Bus di Terminal Indihiang Kota Tasikmalaya Meninggal Dalam Kendaraan Uang Baru Rp 2 Triliun Tersendat Aplikasi, DPRD Kota Tasikmalaya: Jangan Sampai Lebaran Jadi Ajang Adu Sinyal
Distribusi dilakukan berdasarkan pendataan awal melalui tokoh masyarakat dan warga sekitar.
Cara ini dipilih agar bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Relawan PTT membagikan paket secara tertib, berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
“Kami tanya dulu ke lingkungan sekitar, siapa saja yang benar-benar membutuhkan. Supaya bantuan tidak salah alamat,” kata Ko Acong.
Ia menambahkan, kegiatan ini sengaja dilakukan tanpa seremoni. Tidak ada potong pita, tidak ada pidato panjang.
Yang ada hanya antrean warga dan relawan yang bekerja cepat sebelum azan magrib berkumandang.
Siti (54), salah satu penerima manfaat, mengaku bantuan tersebut sangat berarti. Ia sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan tidak menentu.
“Alhamdulillah sangat terbantu. Kalau pekerjaan sepi, beli lauk juga harus dihitung-hitung. Ini meringankan,” tuturnya.
