TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah forum besar kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sarat pidato dan nostalgia, LSMI Tasikmalaya datang membawa sesuatu yang berbeda: tafsir realitas lewat seni.
Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) Tasikmalaya tampil dalam Malam Puncak Dies Natalis ke-79 HMI yang digelar Pengurus Besar HMI, Sabtu (1/3/2026), di SMESCO Convention Hall.
Mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan bagian dari ekspresi kultural di tengah konsolidasi kader lintas generasi.
Baca Juga:Program Ramadan JNE Dongkrak Arus Kiriman, Promo Mudik hingga Diskon Ongkir Jadi Mesin PertumbuhanGerakan Pangan Murah di Kota Tasikmalaya: Harga Diturunkan, Antrean Warga Dinaikkan
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam agenda tersebut, mulai dari Koordinator MN KAHMI Muhammad Syafi’i, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, hingga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Spektrum itu menegaskan bahwa HMI bukan hanya melahirkan aktivis jalanan, tapi juga pengambil kebijakan negara.
Di tengah atmosfer formal, LSMI Tasikmalaya menyuguhkan dua karya: monolog reflektif dan musikalisasi puisi kontemporer.
Keduanya tidak diposisikan sebagai hiburan pengganjal waktu, melainkan sebagai cara membaca ulang perjalanan organisasi dan kegelisahan sosial generasi muda.
Monolog yang dibawakan memotret dinamika kaderisasi HMI dari masa ke masa.
Sementara musikalisasi puisi menyentil realitas sosial dengan diksi yang lugas—tentang idealisme, kelelahan, dan harapan yang tak selalu sejalan dengan kenyataan.
Direktur Eksekutif LSMI Tasikmalaya, Cepi Sultoni, menyebut momen ini berbeda dari penampilannya sebelumnya di agenda PB HMI.
Baca Juga:Habis Beli Ban, Supir Bus di Terminal Indihiang Kota Tasikmalaya Meninggal Dalam Kendaraan Uang Baru Rp 2 Triliun Tersendat Aplikasi, DPRD Kota Tasikmalaya: Jangan Sampai Lebaran Jadi Ajang Adu Sinyal
Jika dulu ia tampil seorang diri dengan karya berjudul 1947, kini ia datang bersama tim.
“Dulu saya tampil sendiri. Sekarang rasanya lebih penuh. Bisa membawa kawan-kawan LSMI Tasikmalaya ke panggung nasional itu kebanggaan tersendiri. Bahkan sempat berkaca-kaca,” ujarnya kepada Radar, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, proses menuju panggung nasional tidak instan. Tim melakukan pembacaan naskah berulang, menyusun aransemen, hingga mendiskusikan pesan yang ingin disampaikan agar tetap berpijak pada identitas kader HMI tanpa kehilangan daya kritik.
Selama ini, menurut Cepi, wajah kader HMI kerap dilekatkan pada aksi demonstrasi dan riuh jalanan. Ia tak menampik sejarah itu, namun menilai perjuangan juga bisa hadir lewat produksi kebudayaan.
“Perjuangan tidak selalu harus lewat orasi. Karya juga bisa jadi medium menyampaikan gagasan,” katanya, seolah menyindir bahwa idealisme tak melulu harus memakai toa.
