TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Video itu sebenarnya bukan video baru. Itu video lama. Video kegiatan “ngabatalan” bersama ASN. Tapi ketika diunggah ulang di akun pribadi Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, ia seperti menemukan umur keduanya.
Dan seperti biasa, yang paling duluan bereaksi bukan protokol. Bukan staf ahli. Tapi warganet.
Kolom komentar di akun resmi Viman Alfarizi, Wali Kota Tasikmalaya mendadak ramai. Ada yang bertanya. Ada yang menyindir. Ada yang sekadar tertawa.
Satu komentar mencuri perhatian.
Baca Juga:Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka MulyanaPulang Naik Bus Budiman, Bupati Tasikmalaya Seperti Nostalgia!
“Pa kunaon NU demo teu di payunan??? Atanapi teu penting?”
Pertanyaan itu pendek. Tapi tajam. Ia tidak hanya bertanya soal posisi kamera. Ia bertanya soal posisi perhatian.
Admin Kominfo_pemkot_tsm kemudian menjawab: itu video tahun lalu. Diambil saat kegiatan ngabatalan bersama ASN.
Jawaban yang normatif. Lurus. Tidak emosional. Tapi media sosial tidak pernah benar-benar lurus.
Akun lain menyindir: admin tampak sibuk sekali membalas komentar. Disertai emoji tertawa. Admin membalas lagi. Kali ini dengan nada yang lebih manusiawi.
“Kalau gak dibales dibilangnya gak responsif. Serbasalahnya jadi admin mah.”
Disertai emoji menangis.
Saya membayangkan admin itu. Mungkin masih muda. Duduk di depan layar. Satu tangan memegang ponsel. Satu tangan lagi memegang kopi yang mulai dingin. Ia bukan pengambil kebijakan. Ia bukan penentu angle kamera. Tapi ia yang harus menjelaskan semuanya.
Baca Juga:Kuota Penukaran Ludes, Warga Kota Tasikmalaya Bingung Mencari Uang Pecahan untuk THR LebaranPotensi Perputaran Uang MBG di Kota Tasikmalaya Bisa Tembus Rp 300 Miliar Pertahun!
Ada yang menyebut videonya basi. Ada yang menyindir: pantas saja kalau ditanya di luar kota tidak bisa menjawab. Ada yang bertanya: kehabisan ide konten? Ada yang menandai akun pribadi wali kota, mempertanyakan anggaran kegiatan.
Admin menjawab lagi. Bahwa kegiatan ngabatalan itu berasal dari sumbangan ASN. Bukan dari anggaran resmi. Jawaban yang sebenarnya sederhana. Tapi di era sekarang, setiap jawaban bisa menjadi bahan tanya berikutnya.
Yang menarik bukan pada videonya. Bukan pada ngabatalannya. Tapi pada fenomenanya.
Kita sedang hidup di zaman di mana admin pemerintah bukan sekadar pengunggah konten. Ia telah menjadi frontliner demokrasi digital. Ia harus cepat. Harus ramah. Harus tahan sindiran. Harus tetap sopan. Dan tidak boleh baper.
