RADARTASIK.ID –Legenda AC Milan, Zvonimir Boban ikut mengomentari kegagalan pahit Inter Milan setelah tersingkir dari Liga Champions di tangan Bodo/Glimt.
Pada leg kedua babak play-off di San Siro, Nerazzurri kembali takluk 1-2, yang memastikan langkah mereka terhenti di kompetisi elite Eropa tersebut.
Sebelumnya, Inter sudah berada dalam posisi sulit usai kalah 1-3 di Norwegia.
Baca Juga:Inter Disingkirkan Bodo/Glimt, Legenda Juventus: Bermain Standar Tak Cukup untuk Menaklukkan Liga ChampionsSandro Sabatini: Inter Tersingkir dari Liga Champions dengan Cara yang Sangat Buruk
Tim asuhan pelatih Kjetil Knutsen tampil disiplin dan efektif dalam dua leg. Di San Siro, Bodo/Glimt kembali menunjukkan kualitas permainan kolektif yang merepotkan tuan rumah.
Gol pembuka tim tamu lahir dari situasi yang menyakitkan bagi Inter.
Mantan pemain AC Milan, Jens Petter Hauge, yang mengenakan nomor punggung 10, memanfaatkan kesalahan fatal lini belakang Inter untuk membawa Bodo unggul.
Kesalahan tersebut menjadi titik balik psikologis yang sulit dipulihkan.
Di babak kedua, Bodo/Glimt semakin menjauh lewat gol tambahan dari Håkon Evjen.
Inter sempat menyalakan asa ketika Alessandro Bastoni mencetak gol balasan.
Namun, upaya itu tidak cukup untuk membalikkan keadaan dan memastikan wakil Italia tersebut tersingkir sebagai finalis musim lalu.
Tim besutan Cristian Chivu pun harus menerima kenyataan pahit tersingkir lebih awal dari yang diharapkan publik Giuseppe Meazza.
Sorotan tajam datang dari legenda Milan yang kini menjadi analis, Zvonimir Boban.
Baca Juga:Hubungan dengan Ibrahimovic Mulai Renggang, Allegri Siap Tinggalkan AC MilanIngin Pulang Kampung, Paulo Dybala Akan Tinggalkan AS Roma
Berbicara di studio Sky Sport Italia, Boban menilai Inter tidak menunjukkan determinasi ekstra yang dibutuhkan dalam laga hidup-mati.
“Inter tidak memiliki kegilaan untuk lolos malam ini,” ujar Boban tegas.
“Bodo jelas berada di bawah Inter secara kualitas. Namun para pemain Inter tidak memiliki sesuatu yang lebih. Itu terlihat jelas,” bebernya.
Menurut Boban, pertandingan seperti ini menuntut mentalitas berbeda—bukan sekadar bermain baik secara teknis, tetapi juga menunjukkan intensitas, keberanian, dan dorongan emosional untuk membalikkan keadaan.
Ia menilai Nerazzurri bermain terlalu datar, tanpa urgensi yang mencerminkan situasi tertinggal agregat.
“Bonny masuk dan memberikan sesuatu. Ia mencoba mengubah ritme. Tapi pemain lain tidak tampak memiliki intensitas yang sama,” lanjutnya.
