TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sejarah mencatat, pemimpin sering memakai tubuhnya sendiri sebagai simbol.
Ada yang memamerkan otot. Ada yang menunjukkan ketahanan. Ada pula yang menampilkan kesederhanaan.
Soekarno gemar berjalan kaki. Ia berhenti. Menyapa. Mendengar. Bukan cepat. Tapi dekat.
Baca Juga:Pelari Muda MAN 1 Tasikmalaya, Muhammad Yazid Anwar, Borong Medali dan Amankan Tiket Porprov 2026MAN 1 Tasikmalaya Borong Piala, Sabet Gelar Juara Umum Penegak se-Jawa Barat di Ajang Ekspresi ke-16
Soeharto jarang terlihat berolahraga di depan kamera. Ia lebih suka sunyi. Tubuhnya tak dijadikan pesan. Kekuasaanlah yang berbicara.
Di era lebih modern, olahraga berubah fungsi. Ia jadi pencitraan. Jogging pagi. Sepeda. Marathon. Media sosial menyukainya. Publik melihatnya.
Di beberapa kota, kepala daerah bersepeda sambil menyapa warga. Di tempat lain, gubernur berlari sambil kampanye hidup sehat. Awalnya efektif. Karena pesan dan realitas masih sejalan.
Masalah muncul ketika simbol berlari lebih cepat dari kebijakan. Ketika foto lebih rajin dari keputusan. Ketika unggahan lebih sering dari kehadiran.
Olahraga lalu berubah. Dari teladan, menjadi tafsir. Dan tafsir publik tidak bisa dikontrol.
Di Kota Tasikmalaya, lari tidak berdiri sendiri. Ia hadir bersamaan dengan demo. Dengan keresahan ekonomi. Dengan perasaan tak ditemui. Maka simbol itu bertabrakan dengan suasana batin kota.
Sejarah juga mengajarkan: simbol tubuh pemimpin selalu dibaca berlebihan. Salah langkah sedikit, tafsirnya bisa melompat jauh.
Baca Juga:Lari yang Berubah Makna di Kota Tasikmalaya! (Part 1)Gelorakan Kedisiplinan, 93 Sekolah Ikuti LKBB Grilya Mustofa Nasional di MAN 1 Tasikmalaya
Lari yang diniatkan sehat, dibaca sebagai menghindar. Diam yang diniatkan tenang, dibaca sebagai abai.
Padahal, dalam sejarah kepemimpinan, olahraga hanyalah alat. Bukan inti. Intinya tetap sama sejak dulu: keberpihakan.
Pemimpin boleh kuat fisiknya. Tapi ia harus lebih kuat telinganya. Lebih panjang kesabarannya. Lebih dalam empatinya.
Ketika simbol lebih dominan dari isi, publik akan lelah menafsir. Dan ketika publik lelah, mereka tidak lagi bertepuk tangan. Mereka menyindir.
Itulah yang sedang terjadi. Sejarah tidak pernah menolak pemimpin yang berolahraga. Sejarah hanya mencatat dengan dingin: siapa yang hadir, dan siapa yang sekadar terlihat.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak bertanya berapa kilometer yang ditempuh. Sejarah bertanya lebih sederhana: apakah pemimpin itu sampai ke rakyatnya. (red)
