Meski begitu, Roma masih berada di papan atas berkat taktik Gasperini yang efisien. Namun jika melihat tren performa, risiko kelelahan di paruh kedua musim bisa menjadi masalah serius.
Di sisi lain, Vincenzo Italiano bersama Bologna patut mendapat pujian.
Setelah kemenangan 2-0 atas Napoli, pelatih asal Sisilia itu membawa Rossoblu naik ke papan atas, hanya terpaut tiga poin dari puncak klasemen.
Ia berhasil menyeimbangkan gaya bermain atraktif dengan manajemen rotasi yang disiplin — setidaknya 17 pemain Bologna sudah bermain lebih dari 500 menit musim ini.
Baca Juga:Spalletti Jadikan Rekrutan Damien Comolli Sebagai Pemain Cadangan JuventusPresiden Napoli Sebut Pengunduran Diri Conte Omong Kosong dan Dongeng di Media Sosial
Strateginya sederhana namun efektif: menjaga semua pemain tetap siap dan termotivasi dan Bologna kini menjadi salah satu tim paling segar secara fisik di Serie A dan tampil mengejutkan di Eropa.
Kegagalan Conte dan Tantangan Allegri
Sebaliknya, Antonio Conte di Napoli mulai merasakan dampak dari rotasi yang buruk.
Setelah musim lalu sukses meraih Scudetto, musim ini ia kesulitan menjaga performa karena terlalu sering mengandalkan skuad inti yang sama.
Kembalinya Napoli ke Liga Champions justru memperburuk situasi: jadwal padat membuat banyak pemain kelelahan, sementara para rekrutan baru gagal beradaptasi karena jarang dimainkan.
Situasi serupa juga dialami Massimiliano Allegri di AC Milan. Timnya memang tak terbebani kompetisi Eropa, namun rotasi yang minim membuat skuad cepat kehabisan energi.
Absennya satu atau dua pemain inti saja sudah cukup untuk membuat performa tim anjlok.
Juventus pun tak jauh berbeda, mereka tidak memiliki kedalaman skuad yang cukup dan belum menemukan keseimbangan ideal di bawah Luciano Spalletti.
Baca Juga:Marco Piccari: AC Milan Kurang Fokus, Inter dan AS Roma Kandidat Terkuat Peraih ScudettoLegenda Inter Peringatkan Gasperini: Fans AS Roma Tak Suka Timnya Turun Jika Sudah di Puncak Klasemen
Dalam sepak bola modern, rotasi bukan lagi sekadar opsi, tapi kebutuhan.
Cristian Chivu sejauh ini menjadi contoh nyata bagaimana kepercayaan terhadap seluruh anggota skuad mampu menjaga performa tim tetap stabil di tengah padatnya jadwal.
Sementara pelatih seperti Gasperini, Conte, dan Allegri masih harus belajar bahwa sukses jangka panjang tak hanya ditentukan oleh strategi di lapangan, tapi juga oleh kemampuan mereka membagi beban di ruang ganti.
