Terpisah, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya Rika Surtika Dewi MPsi menuturkan bahwa kemarahan merupakan bagian dari luapan emosi seseorang. Untuk diri sendiri hal tersebut bisa berdampak positif, dalam hal ini mengurangi depresi. “Tapi harus melihat waktu dan tempatnya juga,” ungkapnya.
Pasalnya emosional yang diluapkan harus memperhitungkan situasi dan tempat. Karena respons dari eksternal tentunya bisa berbeda-beda, bahkan cenderung negatif. “Ada yang mungkin memahami, ada juga yang malah jadi ikut emosi,” terangnya.
Jika berbicara seorang pemimpin, lanjut Rikha, menurutnya emosional harus bisa terkendali. Hal ini untuk mengantisipasi respons negatif yang bisa ditimbulkan. “Meskipun tujuannya untuk memperbaiki, tapi orang yang dimarahi itu cenderung bereaksi terhadap emosinya, hal yang substansinya jadi tidak sampai,” ujarnya.(rangga jatnika)
