Semua Hancur, Warga Palestina Tak Lagi Punya Rumah untuk Kembali, Israel Blokir Akses ke Gaza Utara

RADARTASIK.ID – Banyak warga Palestina tak lagi punya rumah untuk kembali setelah 7 minggu serangan dan invasi darat Israel yang dimulai pada 7 Oktober.

Warga Gaza Ashraf Shann berbicara kepada Al Jazeera bahwa dia memiliki perasaan campur aduk tentang gencatan senjata.

”Saya tidak punya tempat untuk kembali bahkan jika (orang Israel) membiarkan kami kembali ke Kota Gaza,” ujar Ashraf Shann dikutip Al Jazeera.

Baca juga: Perang Belum Usai, Israel Blokir Warga Palestina yang Ingin Kembali ke Gaza Utara, Masuk Zona Pertempuran

”Rumah saya dibom dan hancur total pada hari ketiga perang,” ucapnya.

”Pada saat yang sama, saya senang bagi orang-orang yang kehilangan orang yang dicintai,” ungkap Ashraf Shann.

”Setidaknya mereka bisa mengumpulkan sisa-sisa dan mencoba mencarinya,” lanjutnya.

Warga Palestina Tak Lagi Punya Rumah

Zak Hania, warga Palestina yang terdampar dari kamp pengungsi Shati, menyebut semua hancur di Gaza.

Baca juga: Gaza Diguyur Hujan, Netizen: Israel Tak Bisa Blokir Kuasa Tuhan

”Kami tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih,” ujar Zak Hania kepada Al Jazeera dari kota selatan Khan Younis.

”Rumah-rumah kami rusak, hati kami hancur, semuanya hancur di Gaza sekarang,” tuturnya.

”Kami tidak tahu bagaimana kehidupan akan berlanjut setelah ini,” ucapnya.

Ditanya apakah dia berencana pulang selama gencatan senjata, Hania menjawab: ”Kami tidak bisa pergi karena tentara Israel mengatakan tidak ada yang diizinkan kembali ke utara dan orang-orang takut dan ragu untuk pergi.”

”Saya pikir berbahaya untuk kembali karena mereka masih di jalan yang memisahkan utara dan selatan Gaza,” ungkap Zak Hania.

”Kami tidak yakin tentang apa pun dan kami hanya berdoa agar gencatan senjata berlangsung,” ucapnya.

Pemulihan Perang

Hani Mahmoud, melaporkan dari Khan Younis di selatan Gaza, bahwa fakta perang akan dilanjutkan dalam beberapa hari adalah kekecewaan besar bagi orang-orang.

”Ada rasa bahagia, rasa optimisme, tetapi itu adalah optimisme yang berhati-hati karena setelah 48 hari serangan udara dan pembunuhan tanpa henti, begitu banyak warga Palestina telah dikelilingi oleh kehancuran dan darah, serta jenazah orang-orang yang dicintai dan anggota keluarga,” tutur Hani Mahmoud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *