Soal PHK Massal di Kota Banjar, Begini Analisis Pengusaha Muda

PHK
ilustrasi: net
0 Komentar

BANJAR, RADARTASIK.ID – Munculnya PHK besar-besaran hingga bangkrutnya pabrik bulu mata yang berkedudukan di Kota Banjar dinilai bukan semata faktor penjualan produk yang menurun.

Lebih dari itu geografis Kota Banjar juga dinilai tidak strategis untuk kawasan industri. Terutama untuk jalur distribusi barang yang terbilang cukup jauh dari pusat-pusat perdagangan.

Pebisnis muda asal Kota Banjar Atet Handiyana menyebut salah satu yang membuat PT Sung Chang Indonesia bangkrut dan juga menurunnya usaha PT Albasi Priangan Lestari (PT Alba) adalah akibat jalur distribusi yang rumit. 

Baca Juga:Arus Mudik di Terminal Tipe A Kota Banjar Diprediksi Naik Mulai H-7 LebaranAntisipasi Kecurangan Pengisian BBM Jelang Mudik Lebaran, Pemkot Banjar Terjunkan petugas

“Perusahaan besar di Kota Banjar tidak akan bisa bertahan lama, lantaran geografis di Banjar itu sulit,” kata Atet, Rabu, 27 Maret 2024.

Rumitnya letak geografis Kota Banjar itu menurutnya membuat biaya operasional pengiriman barang menjadi tidak efisien. 

“Menuju pelabuhan terdekat saja sangat jauh ke Tanjung Priok. Belum lagi lama waktunya di perjalanan,” kata dia.

Jika saja letak perusahaan dekat dengan jalur distribusi, maka menurutnya perusahaan itu tidak akan bangkrut lantaran biya operasional bisa ditekan. 

“PT Alba itu kan ekspor, sekarang untuk biaya perjalanan saja sudah pasti tinggi. Dari mulai Banjar menuju pelabuhan. Saya berkali-kali menyampaikan bahwa Banjar itu tidak cocok menjadi kota atau kawasan industri,” ujarnya.

Menurutnya meski UMK Kota Banjar paling rendah, akan tetapi faktor jalur distribusi yang efisien tetap menjadi faktor utama perusahaan bisa melakukan penghematan biaya.

Dilihat dari sejarah, lanjutnya, Kota Banjar adalah kota transit dan perdagangan. Bukan sebagai kota industri.

Baca Juga:Mantan Wakil Wali Kota Banjar Sebut Kriteria Calon Pemimpin ke Depan Harus BeginiTravel Gelap Semakin Marak Jelang Lebaran, Organda Ciamis Minta Pemerintah Bertindak

“Makanya dibutuhkan sebuah blue print yang cukup baik untuk pembangunan, misalkan pasar induk atau pasar hewan yang harus dikelola dengan sangat baik,” kata dia.

Sementara itu terkait adanya PHK massal terhadap buruh, Atet menilai pemerintah seharusnya cepat tanggap menyikapi situasi seperti itu.

Salah satunya dengan mendorong industri kreatif berkembang serta memajukam UMKM. Sehingga para buruh yang terkena PHK bisa tetap diberdayakan.

“Karena industri kreatif di Banjar itu cukup banyak. Dari beberapa yang saya datangi, industri kreatifnya itu sulit untuk berkembang, marketingnya sulit. Pemerintah harus menjembatani UMKM dengan pembeli. Pembelinya harus dari seluruh Indonesia,” katanya. (je)

0 Komentar