Renungan Pembangunan Kota Tasikmalaya

Renungan Pembangunan Kota Tasikmalaya
Oleh: Mia Wastuti
0 Komentar

Masalah sosial memang relatif sulit dan lebih komplikatif untuk diselesaikan. Dalam hal ini, rekayasa sosial dilakukan melalui rekayasa infrastruktur. Misalnya, di satu daerah tingkat pendidikan masyarakatnya rendah. Setelah dilakukan pengumpulan data dan dianalisa, ternyata daerah tersebut memiliki warga usia sekolah tinggi sementara tidak ada sarana pendidikan. Untuk itu, pemerintah membangun sekolah dan ruang-ruang kelas di daerah tersebut.

Tidak semua masalah dapat diselesaikan sesederhana itu. Realitas sosial yang kompleks dan dinamis memerlukan penyikapan segera dan tuntas. Meskipun program yang sudah direncakanan hasilnya tidak dapat diukur secara instan, tapi ada beberapa pencapaian yang bisa dijadikan milestone sebagai ukuran keberhasilan antara.

Kesejahteraan masyarakat diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia dengan 3 hal, pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Maka pencapaian peningkatan salah satu indikator akan merujuk pada tujuan yang sama: peningkatan kesejahteraan.

Sudah sampai mana kita?

Baca Juga:Ajarkan Mandiri dan Disiplin Lewat PermacaPendidikan Al-Qur’an Akan Dibuat Setara Sekolah

Di September ini, bulan menjelang masa kepemimpinan Kepala Daerah Kota Tasikmalaya berakhir, sudah sampai mana kita? Salah satu janji kampanye: menurunkan persentase penduduk miskin.

Pada tahun 2017 persentase penduduk miskin Kota Tasikmalyaa 14,8 persen sempat turun sampai 11,6 persen pada 2019 dan kembali naik pada tahun-tahun berikutnya. Indikator ini menjadikan kita berpikir pencapaian dan program apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Tasikmalaya.

Menurunkan jumlah penduduk miskin tentu tidak mudah. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan harus menyusun rencana dan program kerja yang secara terukur dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini tentu sejalan dengan pemenuhan hak masyarakat sebagaimana ditetapkan para founding fathers kita. Pelaksanaan program harus dikawal agar tidak melenceng dari pencapaian tujuan.

Berbagai dinamika yang terjadi dapat mengubah rencana program/kerja tapi tetap dengan tujuan yang sama. Karena itulah rencana memerlukan kelenturan, termasuk ketika menghadapi covid yang meluluhlantakkan perekonomian masyarakat.

Sudah sampai mana kita? Jangan sampai jumlah masyarakat miskin meningkat tapi yang dilakukan adalah perluasan trotoar di Jalan HZ Mustofa. (*)

[/membersonly]

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

Laman:

1 2 3
0 Komentar