Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tak Cukup

Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tak Cukup
SUASANA. Potensi Kampung Batik Kota Tasikmalaya di kawasan Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes perlu diperkuat, Selasa (27/9/2022). Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Bagaimana cara mengejar pertumbuhan ekonomi? Pastinya Kota Tasikmalaya mesti lebih cepat. Oleh karena itu, agar pertumbuhan lebih pesat, dia menyarankan tiga sektor pertumbuhan ekonomi menjadi target utama. Yakni sektor perdagangan, industri, dan konstruksi.

”Kalau ingin selevel itu, mestinya pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya sembilan persen. Caranya terus genjot basis pertumbuhan ekonominya yakni sektor perdagangan, industri, dan konstruksi,” ujarnya.

Misalnya untuk sektor perdagangan diminta untuk menjual produk sendiri baik ke dalam maupun ke luar. ”Ketika sektor perdagangan ini menjual ikon khas Tasikmalaya dan melakukan branding akan berefek pada sektor industri naik,” katanya.

Baca Juga:Jago WayanKades Dilarang Jadi Anggota Parpol

Untuk menguatkan sektor perdagangan, kata dia, perlu pemahaman dan militansi masyarakat Tasikmalaya dalam memakai barang atau produk buatan pengusaha lokal. Seperti Jepang, Korea, dan Cina yang masyarakatnya ada rasa kebanggaan untuk memakai produk sendiri. Alangkah bagusnya, kata dia, masyarakat membuat gerakan bangga orang Tasik atau makin asik jadi orang Tasik, untuk menguatkan produk lokal. Produk khas lokal, seperti batik Tasik, juga mesti dibuat lebih modern. Jangan sampai batik khas Tasik dibuat oleh perajin Pekalongan. ”Kemudian bordir Tasikmalaya ini terus dikuatkan. Jangan sampai tenggelam dengan bordir dari Padang atau daerah lainnya,” tuturnya.

Lalu, kata dia, payung geulis harus menjadi bagian penting sebagai bagian dari gaya hidup warga Tasik. Dulu seperti Presiden RI Soekarno ke mana-mana membawa payung. ”Kalau bisa payung geulis diubah menjadi modern. Dengan demikian saat musim seperti ini bisa digunakan untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan,” tuturnya.

Bambang juga mendorong sebutan pasar Tasik setiap Kamis di Tanah Abang, Jakarta, dihidupkan kembali. Namun barang yang dijual jangan sampai kebanyakan dari daerah lain. Seperti Pekalongan, Padang dan lainnya. ”Kenapa tidak diisi oleh produk asli Tasikmalaya. Agar supaya mempertahankan dan meluaskan hasil produksi Kota Tasikmalaya di Pasar Tanah Abang,” ujarnya.

Wawancara terpisah, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Tasikmalaya Prof Dr Kartawan MP menyampaikan dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diprediksi kemiskinan di Kota Tasikmalaya akan meningkat. Oleh karena itu, solusi yang mesti diberikan adalah pemberdayaan masyarakat.

0 Komentar