Pedestrian Kota Tasikmalaya: Dulu Estetik, Kini Tidak Lagi

pedestrian kota tasikmalaya
Kawasan pedestrian Kota Tasikmalaya sempat jadi primadona pengunjung saat awal pembukaan karena dinilai estetik. (Ayu SB/Radartasik.id)
0 Komentar

Awal 2023, kawasan pedestrian Kota Tasikmalaya sempat dijuluki “Malioboro  Tasik” lantaran desainnya mirip dengan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Pernah juga disebut sebagai Braga-nya Kota Tasikmalaya. Lalu Bagaimana penampilannya sekarang?

Oleh: Ayu Sabrina B

KAWASAN Pedestrian Cihideung dan HZ Mustofa Kota Tasikmalaya masih menjadi magnet wisata murah meriah bagi pengunjung.

Saat akhir pekan dan bulan Ramadan, jumlah kunjungan di destinasi itu pun meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.

Baca Juga:Mobil Sedan di Ciamis Terbakar Hebat, Suami-Isteri Berhasil SelamatKawasan Wisata di Pangandaran Akan Dipasangi CCTV untuk Pantau Kejahatan dan Kecelakaan

Dulu kawasan tersebut sempat dijuluki “Malioboro Tasik” lantaran desain pedestrian yang mirip dengan Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Selain itu, juga disebut sebagai “Braga”-nya Tasik oleh Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang pernah berjalan kaki di jalan Cihideung itu.

Kala itu area Pedestrian banyak dihias warna-warni Payung Geulis yang tergantung pada bentangan seutas tali sepanjang pedestrian Hz. Namun setelah setahun berlalu, penampilan pedestrian kini sudah jauh berbeda dibanding saat pertama peluncurannya.

Beberapa payung yang dulu terbuka itu, kini tampak tertutup. Beberapa bahkan terlihat koyak, dan utas-utas tali lainnya juga kosong tanpa hiasan payung khas Kota Tasikmalaya itu.

Mengutip pendapat John Ruskin pemikir sosial abad ke-19 asal Inggris pernah menyatakan bahwa ”Ukuran dari setiap peradaban besar adalah kotanya, dan ukuran kehebatan sebuah kota dapat dilihat dari kualitas ruang publiknya—taman dan alun-alunnya”. Pemikiran tersebut masih tetap menjadi patokan sampai saat ini.

Seperti kata Hani, mahasiswi di salah datu perguruan tinggi di Kota Tasikmalaya itu. Ia merasa pedestrian yang sekarang tampak sudah tidak sama lagi dengan setahun lalu saat dirinya pertama kali menyaksikan hasil pembangunan pemerintah itu.

“Dulu payung geulis itu sesuai namanya, cantik. Berwarna-warni, terbuka, sampai cahaya tidak begitu saja masuk ke area jalan ini. Dulu se-estetik itu,” kata Hani kepada Radar, Jumat (22/3/2024).

Baca Juga:PKB Kota Banjar Beri Sinyal Bentuk Koalisi Pilpres di Pilkada 2024Pasangan Herdiat-Yana Dinilai Masih Pantas Bersama di Pilkada 2024, Gak Jadi Pisah?

Ia juga menyebutkan bahwa yang membuat perbedaan sangat mencolok di kawasan itu antara dahulu dan kini adalah kehadiran para pedagang kaki lima.

“Di awal tidak ada pedagang seramai ini. Kawasan ini betul-betul cantik karena Payung Geulis dan Kelom Geulis raksasa itu. Sekarang penuh dengan orang berjualan,” ujarnya.

0 Komentar