Gunungan Sampah Memanjang Nyaris 200 Meter di Pasar Cikurubuk

sampah cikurubuk
Gunungan sampah memanjang di sepanjang jalan belakang Pasar Cikurubuk nyaris mencapai 200 meter. (Ayu Sabrina B/radartasik.id)
0 Komentar

“Padahal retribusi bayar. Bahkan dari penjual ada karcis yang Rp2000. Untuk Dinas LH Rp1000. Terus jualan di trotoar Rp 2000. Sehari itu,” sambung Ade.

Kondisi itu juga dibenarkan Ajat, petugas kebersihan di Pasar Cikurubuk. Ia menerangkan bahwa sampah yang menggunung itu sudah dibiarkan hampir sepekan. “Ini dari Kamis kemarin (9 Mei) sampai sekarang udah mau Kamis lagi,” kata Ajat.

Menurut informasi yang ia dapat, penyebab tak diangkutnya sampah tersebut adalah akibat adanya aksi protes warga di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir. Sehingga TPA ditutup sementara dan mobil pengangkut sampah tak bisa masuk.

Baca Juga:Lama Tak Terdengar, H Maman Padud Kota Banjar Tiba-Tiba Datangi Partai Golkar, Mau Apa?Daftar untuk Pilkada Banjar, Dimyati-Alam Disebut Sudah Penuhi Persyaratan Perseorangan

“Airnya jadi kotor terus kayak banjir juga. Makannya warga di sana protes dan TPA ditutup sementara. Katanya sih sekarang sudah dibuka lagi tapi diangkutnya ngantri,” terang dia.

Berdasarkan pantauan Radar, penumpukan sampah tidak hanya terjadi di TPS Pasar Cikurubuk. Beberapa TPS liar juga ditemukan. Seperti di Jalan Siliwangi dan di Jalan KHZ Mustafa.

Cawalkot Mesti Perhatikan Sampah 

Warga setempat menilai, Pemerintah Kota Tasikmalaya saat ini tidak mampu mengurai permasalahan sampah. Seperti Suryadi dan Ade, yang sudah berulang kali mendengar terbatasnya alat berat dan anggaran pengelolaan sampah.

Kedua pedagang itu, menaruh harap besar kepada para Calon Wali Kota Tasikmalaya mendatang, untuk menuntaskan ihwal kebersihan di Kota Resik.

“Ke depannya supaya cepat kalau ada sampah itu jangan ditunda-tunda. Segera diangkut. Ini PR untuk walikota yang kepilih nanti kalau yang sekarang mungkin gak mampu,” kata Ade.

“Iya harus perhatikan soal sampah, karena ini sudah sering. Jangan cuman pasang baliho itu kan kalau sudah gak kepake jadi sampah juga. Mestinya pada lihat ke sini biar bisa nilai langsung layak gak,” timpa Suryadi.(Ayu Sabrina B)

0 Komentar