Dosen FKIP Unsil Tasikmalaya Laksanakan Pengabdian Masyarakat, Ajarkan Guru Cara Mengajar Bahasa Indonesia yang Lebih Seru

Unsil
Kelompok PPM Unsil; Dr Titin Setiartin Dra MPd, Dr Hj Iis Lisnawati Dra MPd, Agi Ahmad Ginanjar MPd, dan Aveny Septi Astriani SPd MHum bersama guru bahasa Indonesia dalam kegiatan pelatihan penerapan model pembelajaran transformasi teks cerita rakyat ke dalam bentuk cerita bergambar (komik) mengikuti materi di aula SMKN 1 Tasikmalaya, Sabtu (18/6/2023). (Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

Mata pelajaran Bahasa Indonesia ini bisa berkolaborasi dengan mata pelajaran yang lain, misalnya desain grafis, perfilman, dan lain-lain.

Pelatihan ini juga, sebagai wujud tantangan bagi guru bahasa Indonesia, agar lebih kreatif dan inovatif dalam perkembangan di era digital.  Apalagi dalam ranah multi literasi sekarang, siswa SMK jangan hanya baca tulis atau mendengarkan saja.

“Perlu diajarkan ada literasi digital dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi semakin cepat,” katanya.

Baca Juga:Ace Living Plaza Tasikmalaya Gelar Donor Darah, Pendonor Diberi Hadiah Voucher Belanja!Mie Bakso Sambel Garut Pedasnya Menggelegar, Gurih Kuah Ebi Berpadu Kenyalnya Baso Aci Bawang Uuuuhhh Mantappp!  

Oleh karenanya dalam mendukung upaya tersebut, kelompok PPM dari Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unsil Tasikmalaya memberikan pemahaman tahap awal pelatihan penyusunan bagaimana storyboard. Itu sebagai langkah awal membuat komik sampai kepada jadinya komik.

“Kemudian, untuk tahap kedua kalau ada pelatihan ini dilanjutkan komik ke dalam animasi,” ujarnya.

Peserta Pelatihan Dra Lilis Julaeha dan Dra Wiwit Widyawati menyambut baik adanya pengetahuan baru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dikembangkan agar menjadi komik, animasi dan perfilman. Tentunya ini juga sebagai bentuk penerapan kurikulum merdeka.

“Kita merespons dengan baik, adanya pengembangan bahasa Indonesia bisa di-update dengan komik, animasi, drama dan perfilman. Itu tentunya selaras dengan kurikulum merdeka dan sistem pembelajaran kolaborasi di sekolahnya,” katanya.

Dengan demikian, adanya pengembangan bahasa Indonesia sebagai tantangan baru bagi guru. Mengingat setiap siswa memiliki perbedaan keahlian kompetensinya.

“Oleh karenanya informasi baru ini, nantinya kita perlu kesepakatan bersama antara guru mata pelajaran lainnya, agar mencari solusinya dalam penerapan di lapangan sesuai rancangan dan disesuaikan program sekolah,” ujarnya. (riz)

0 Komentar