Demam Piala Dunia U-17, Order Sepatu Sepakbola Merek Lokal di Tasikmalaya Meningkat 80 Persen

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Piala Dunia U-17 tahun 2023 dilaksanakan di Indonesia. Kabar ini membuat seluruh pecinta sepakbola di pelosok negeri ikut antusias dan berpengaruh ke industri sepatu sepakbola.

Beragam pernak-pernik khas olahraga kaki itu, kini kembali marak di pasaran. Seperti, sepatu bola yang diakui pengrajin menambah omzet.

Dedi (63), seorang perajin sepatu sepakbola di Bojong Nangka, Sukamenak, Purbaratu, Kota Tasikmalaya, mengalami kenaikan pesanan produk hingga 80 persen dari biasanya.

“Sekarang, 80 persen meningkat semenjak ada pertandingan Piala Dunia U-17. Memang rata-rata pesanan untuk ukuran anak-anak,” katanya.

Baca juga: Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat Kota Tasikmalaya Terhadap Risiko Bencana Disebut Kurang

Biasanya, Dedi dan anaknya biasa memproduksi 20 pasang sepatu per hari. Puluhan sepatu itu hanya untuk dipasarkan di wilayah Jawa Barat.

Namun belakangan ini ia menerima pesanan dari sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Lombok, Kalimantan, hingga merambah ke luar negeri.

“Pemesanan banyak dari Jawa Barat, sekarang lagi datang pesanan dari luar, lombok, kalimantan, NTB, dan sekarang juga sedang coba2 dari Malaysia,” ungkapnya.

Dedi mengaku sudah memulai usaha pembuatan sepatu bola sejak 20 tahun lalu. Ia berharap produk asli yang ia beri nama “Prostik” atau singkatan dari Produk Tasik, bisa digunakan oleh pemain bola di Kota Tasikmalaya bahkan hingga ke mancanegara.

Baca juga: Waduh! Dana Pilkada Kota Tasikmalaya Masih Kurang Rp 40 Miliar?

“Ini turun temurun dari bapak saya, sejak 20 tahun saya sudah membuka kerajinan tangan ini. Harapannya ingin lebih meningkat daya jual dan konsumennya juga banyak yang pakai produk asli dari Tasikmalaya ini,” katanya.

Selain asli produk buatan rumah, Prostik ini juga ditarif dengan harga yang terjangkau yaitu Rp110.000. Kendati demikian, Dedi berani adu kualitas dengan merk lain, lantaran ia memastikan bahan yang dipilih merupakan kulit sapi asli yang ia jait sendiri polanya.

Tak Pernah Dilirik Pemerintah

Sejak tahun 2007 Dedi membuka usaha alas kaki tersebut, hingga kini ia tak pernah dapat pengakuan tentang produk buatan tangannya itu yang notabene seorang asli warga Kota Tasikmalaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *