SINGAPARNA – Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya menggelar rapat terkait tata kelola peliputan dan penguatan sinergi media di era digital 4.0 jelang Pemilu 2024, Selasa (31/5).

Hadir dalam acara tersebut anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat bersama narasumber dari Pemimpin Redaksi Radar Tasikmalaya Sandy Abdul Wahab termasuk para awak media yang bertugas di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Baca selengkapnya, disini

Dalam acara tersebut Bawaslu mengajak serta peran media dalam mengawasi dan mengawal jalannya Pemilu 2024 nanti yang jujur dan adil serta bisa menyampaikan informasi dan berita kepada masyarakat.

Ketua Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Dodi Juanda mengatakan, kegiatan tata kelola peliputan dan penguatan sinergi media di era 4.0, ini dilaksanakan untuk bersama-sama mengawal jalannya Pemilu yang jujur dan adil.

Selain itu juga, kata Dodi, peran kehumasan Bawaslu bisa ikut menyampaikan semua kegiatan Bawaslu dalam pengawasan Pemilu termasuk peran media ikut mempublikasikan kepada masyarakat.

Saat ini, terang dia, walaupun belum masuk tahapan Pemilu 2024 yang akan dimulai 14 Juni 2022 ini, Bawaslu tengah melakukan pemantauan terhadap daftar pemilih berkelanjutan.

“Kita memantau ke lapangan setiap bulan memastikan masyarakat dan orang pemilih yang sudah memenuhi persyaratan masuk sebagai pemilih tetap pada Pemilu 2024 nanti,” kata Dodi, kepada wartawan.

Dia pun mengajak media dan masyarakat untuk mengawasi pemilu, karena Bawaslu tidak bisa berjalan sendiri, tetap membutuhkan peran serta aktif dari masyarakat termasuk media.

Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat Yusup Kurnia menyampaikan, sinergitas dengan media ini perlu dijalin, karena punya kepentingan yang sama dalam mengawal Pemilu yang jujur dan adil khususnya di Tasikmalaya.

“Peran Bawaslu tanpa media, dalam menyampaikan kegiatan dan tugasnya dalam mengawasi pemilu kepada masyarakat, tidak bisa dilakukan sendiri, tetap harus bersama dalam kerja transparan dan dalam pengawasan pemilu,” terang dia.

Dari sisi lain, ungkap dia, di era sekarang, peran humas di Bawaslu harus mampu membuat konten edukasi elektoral kepada publik, untuk menciptakan pemilih yang mempunyai kriteria rasional dan cerdas sehingga pemilu lebih adil, jujur dan ideal.

“Karena dalam problem pemilu, berita atau informasi hoax harus dilawan oleh teman-teman media bersama Bawaslu. Tantangan di era digital 4.0 kehumasan Bawaslu harus menyesuaikan,” tambah dia.

Maka kapasitas kehumasan Bawaslu harus menyesuaikan dengan era digitalisasi sekarang. Upaya untuk mencapai publisitas yang maksimum atas pesan atau informasi lembaga dalam meningkatkan pengetahuan demi pengetahuan masyarakat.

Koordinator Divisi Hukum, Humas Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Mohammad Abduh mengatakan bersama media Bawaslu awasi pemilu termasuk memberikan edukasi politik kepada pemilih atau masyarakat.

Peran kehumasan di Bawaslu sendiri berperan menjaga reputasi, menciptakan citra baik Bawaslu, dan menginformasikan segala kegiatan Bawaslu kepada publik.

“Dalam rangka memenuhi hak publik, di Kabupaten Tasikmalaya, untuk tahu serta mengantisipasi munculnya hoax. Khususnya nanti dalam menghadapi Pemilu 2024, tiga perhelatan, Pilpres, Pileg dan Pilkada,” ungkap dia.

Dia berharap media bisa bersinergi dengan Bawaslu bersama-sama dalam mengawal dan mengawasi jalannya Pemilu yang jujur dan adil. “Humas adalah wajah Bawaslu, mengelola strategi komunikasi publik, mengelola krisis dan menjalin hubungan dengan media, dengan cara mengintegrasikan kegiatan Bawaslu,” kata dia.

Pemimpin Redaksi Radar Tasikmalaya Sandy Abdul Wahab mengatakan, sudah barang tentu peran media dalam mengawal jalannya pemilu dilakukan, termasuk bersama penyelenggara pemilu. Dalam tata kelola peliputan, apalagi penguatan sinergi media di era digital 4.0, semua kegiatan manusia itu kembali ke digital.

Ada dua tantangan jurnalisme di era disrupsi digital. Pertama tantangan dari jurnalisme instan mengutip begitu saja sumber informasi dari media sosial tanpa memastikan keabsahan data. Dan informasi hoax informasi bohong atau tidak benar.

“Seperti di dunia politik, isu-isu jelang Pemilu bisa dibuat oleh buzzer politik, berita yang masih dipertanyakan dan samar-samar dibuat agar publik percaya terhadap informasi yang belum tentu benar,” ungkap dia.
Maka dari itu, tambah dia, caranya dengan meningkatkan kembali peran pers dalam memberitakan informasi dan mengabarkan pemberitaan yang tepat, akurat dan benar. Sehingga bisa menangkal hoax. (dik)

[/memberonly]

%d blogger menyukai ini: