TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengembalikan sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA mulai tahun ajaran 2027/2028 mendapat sambutan positif dari SMAN 1 Tasikmalaya.
Sekolah menilai kebijakan tersebut dapat membantu murid memperdalam bidang keilmuan sesuai minat dan bakat sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Dr H Yonandi SSi MT, mengatakan, sekolah merasakan langsung perubahan pola pembelajaran sejak sistem penjurusan dihapus melalui penerapan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2024/2025. Selama periode tersebut, murid mengikuti pembelajaran berbagai mata pelajaran tanpa pengelompokan berdasarkan rumpun keilmuan seperti sebelumnya.
Baca Juga:STC MORO UDANG: Vespa Tua Menjemput Udang Segar di CikalongPohon Tumbang di Jalan Cinehel Timpa Dua Kios, Atap 15 Bangunan Ikut Rusak
“Selama ini, anak-anak kami belajar semua mata pelajaran secara umum. Akibatnya, ketika menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang berbasis mata pelajaran, dan ketika masuk ke perguruan tinggi, fondasi mereka kurang dalam,” ungkap Yonandi.
Menurut dia, pola pembelajaran tersebut membuat murid belum sepenuhnya dapat memusatkan pendalaman akademik pada bidang yang sesuai dengan kecenderungan dan potensi mereka. Murid yang memiliki kemampuan lebih menonjol di bidang IPA, misalnya, tetap harus mengikuti pendalaman mata pelajaran IPS, begitu pula sebaliknya.
Kondisi itu, kata dia, menjadi salah satu alasan sekolah menyambut rencana pengembalian penjurusan. Yonandi menilai penguatan bidang keilmuan sejak SMA diperlukan agar murid memiliki bekal akademik yang lebih sesuai dengan program studi yang akan dipilih ketika memasuki perguruan tinggi.
“Penjurusan ini bukan langkah mundur. Ini langkah pemantapan. Seperti yang disampaikan Pakar Pendidikan Ki Darmaningtyas, perguruan tinggi saat ini kesulitan mendapatkan mahasiswa baru dengan dasar keilmuan yang sesuai dengan program studinya,” katanya.
Meski mendukung kebijakan tersebut, Yonandi berharap pengembalian penjurusan tidak hanya menghadirkan kembali tiga kelompok keilmuan yang pernah diterapkan sebelumnya. Ia mendorong adanya pengembangan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, seperti rumpun IPA yang terintegrasi dengan teknologi, IPS dengan bidang digital, serta Bahasa dengan kajian budaya.
Dalam menentukan pilihan jurusan, sekolah juga mengusulkan pemetaan minat dan bakat murid dilakukan secara matang.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat menjadi salah satu instrumen pertimbangan bersama tes bakat minat serta pendampingan guru bimbingan konseling (BK) dan psikolog. Langkah ini diperlukan agar pilihan jurusan tidak semata-mata dipengaruhi keinginan orang tua, tetapi benar-benar sesuai dengan potensi murid.
