CIAMIS, RADARTASIK.ID – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ciamis berhasil lolos tahap administrasi ajang King Hamad Award for Coexistence and Tolerance 2026 yang diselenggarakan di Bahrain. Capaian ini membuka peluang bagi Ciamis untuk memperkenalkan praktik kerukunan antarumat beragama, toleransi, serta gotong royong masyarakat di tingkat internasional.
Ketua FKUB Kabupaten Ciamis, Dr Sumadi MAg, mengatakan pihaknya mendapat informasi mengenai ajang yang mengapresiasi upaya membangun toleransi, saling menghormati, serta kerja sama lintas agama dan budaya tersebut sekitar satu bulan lalu.
“Kita sebenarnya tidak ingin ikut-ikutan lomba-lomba, karena itu memang pekerjaan kita sehari-hari,” katanya kepada wartawan, kemarin.
Baca Juga:Puluhan Ribu Jemaah Larut dalam Tasikmalaya Bershalawat di Alun-Alun ManonjayaAnggota DPRD Iyam Maryani: Perkuat Pengawasan Anak, Kasus Gadis Bantarkalong Tasikmalaya Jadi Peringatan
Meski demikian, Sumadi bersyukur program kerukunan umat beragama yang dijalankan di Tatar Galuh mendapat kesempatan untuk mengikuti ajang internasional tersebut. Menurutnya, lolos administrasi menjadi pencapaian tersendiri karena Ciamis setidaknya telah tercatat sebagai peserta dalam kompetisi tingkat dunia.
“Bagi saya sudah lolos administrasi sedunia minimal Ciamis sudah tercatat sebagai peserta dunia. Kesempatan ini dapat membuka jalan untuk memperkenalkan program kerukunan umat beragama yang telah dijalankan di Tatar Galuh ke tingkat internasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, berbagai program yang dijalankan FKUB tidak semata-mata berorientasi pada penghargaan. Upaya tersebut merupakan bagian dari kerja berkelanjutan untuk menjaga keharmonisan masyarakat dan memperkuat hubungan antarumat beragama.
“Program yang kita jalankan memenuhi persyaratan administrasi, ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman Ciamis ke tingkat dunia,” katanya.
Sumadi menjelaskan, salah satu aspek yang menjadi kekuatan Ciamis adalah besarnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kerukunan. Menurutnya, keberhasilan merawat toleransi tidak hanya bergantung pada dukungan dana eksternal, tetapi juga pada kesadaran warga untuk bergotong royong dan menjaga keberlanjutan program.
“Masyarakat Ciamis adanya gotong royong dalam merawat kerukunan antar umat beragama dan mampu keberlanjutan, sehingga bisa dinilai masuk persyaratan ajang toleransi internasional tersebut,” ujarnya.
Selain partisipasi masyarakat, FKUB Ciamis juga memaparkan program yang berpotensi diterapkan di daerah lain. Di antaranya Sekolah Moderasi dan Duta Harmoni yang menyasar lingkungan pesantren, SMA/MA, organisasi masyarakat, serta kalangan pemuda lintas iman.
