Kelompok juga diminta melaporkan omzet dan modal usaha yang dikelola. Hal ini penting untuk mengetahui perkembangan usaha, termasuk keberlanjutan pemanfaatan bantuan modal yang pernah diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2010.
“Memang pernah ada pemberian modal usaha untuk PEKKA, sehingga memantau masih berjalan atau ada yang sudah tidak,” katanya.
Selain perkembangan usaha, evaluasi mencakup perubahan jumlah anggota, kelengkapan laporan, perencanaan kegiatan, serta dampak ekonomi yang dirasakan anggota. Hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kelompok PEKKA terbaik.
Baca Juga:Puluhan Ribu Jemaah Larut dalam Tasikmalaya Bershalawat di Alun-Alun ManonjayaAnggota DPRD Iyam Maryani: Perkuat Pengawasan Anak, Kasus Gadis Bantarkalong Tasikmalaya Jadi Peringatan
“Ketika sudah dievaluasi, mengecek apakah memiliki laporan dan perencanaan yang baik, makin berkembang, memiliki dampak secara ekonomi bagi anggota PEKKA. Nantinya bisa mendapatkan penghargaan Kelompok PEKKA terbaik,” ujarnya.
Sementara itu, peserta dari Kelompok PEKKA Cijeungjing, Sri Mulyani, menilai kegiatan pembinaan dan pengembangan keterampilan sangat dibutuhkan anggota. Dalam kegiatan tersebut, ia turut belajar membuat hiasan bunga dari kawat bulu.
“Manfaat kegiatan ini sebagai perempuan bisa menjadi penghasilan tambahan keluarga,” katanya.
Ia menjelaskan, kelompoknya juga telah mengembangkan berbagai produk kerajinan dan olahan pangan berbahan dasar jagung. Di antaranya kerajinan dari cangkang jagung serta makanan olahan jagung yang memiliki nilai jual.
“Sehingga adanya memanfaatkan jagung ini mampu membuat produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya. (riz)
