Dialog Budaya Dorong Warisan Lokal Tetap Hidup di Kabupaten Tasikmalaya

Dialog budaya lokal
Berbagai unsur seniman, budayawan, juru pelihara, akademisi, mahasiswa asing yang sedang penelitian mengikuti Dialog Budaya Jabar yang digagas Pemprov Jabar, Jumat 2 Oktober 2026. (Istimewa)
0 Komentar

“Merawat warisan budaya bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama—para budayawan, seniman, akademisi, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, media, dan terutama generasi muda,” ucapnya.

Iendra menilai pelestarian budaya harus dilakukan secara lebih substansial. Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan, didokumentasikan, atau ditampilkan dalam agenda seremonial. Nilai dan maknanya harus dipahami, kemudian dikembangkan agar mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, modernisasi dan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman terhadap budaya. Sebaliknya, keduanya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat eksistensi kebudayaan melalui dokumentasi, promosi, dan pengembangan kreativitas.

Baca Juga:Musim Kemarau Panjang, OTL SPP Cineam Tasikmalaya Gelar Shalat Istisqa Bersama Para PetaniPortal Papayan-Cikalong Dipersoalkan, Pengusaha Minta Truk Legal Tak Dibatasi

Digitalisasi dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pengenalan budaya, sementara kreativitas generasi muda dapat membuka ruang baru bagi seni dan tradisi agar lebih dekat dengan perkembangan zaman.

Pengembangan pariwisata juga dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Kekayaan budaya lokal tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Iendra berharap Dialog Budaya Jawa Barat tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan komitmen dan langkah nyata untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di Kabupaten Tasikmalaya maupun Jawa Barat.

“Jangan hanya menjadi penonton kebudayaan. Jadilah pelaku, penjaga, sekaligus pencipta masa depan kebudayaan kita,” tegasnya.

Ia menambahkan, kemajuan daerah semestinya tidak membuat masyarakat kehilangan akar budayanya. Kemajuan justru harus dibangun dari identitas dan nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatan masyarakat.

“Justru sebaliknya, kemajuan yang berkarakter adalah kemajuan yang tumbuh dari jati diri masyarakatnya sendiri,” pungkasnya. (obi)

0 Komentar