Teknologi sensor kelembaban kemudian berperan memastikan kondisi pupuk tetap sesuai. Ketika tingkat kelembaban berada di bawah batas tertentu, sistem akan mengirimkan sinyal otomatis melalui sensor dan perangkat ESP32 untuk mengaktifkan mekanisme pengeluaran pupuk cair.
Melalui konsep tersebut, limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan dapat diolah menjadi pupuk cair yang bermanfaat bagi tanaman.
Megah mengatakan bahwa timnya masih akan melakukan penyempurnaan terhadap teknologi tersebut agar dapat dikembangkan menjadi inovasi yang lebih optimal dan memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Baca Juga:Gebyar STEAM Tingkat SMP Sangat Relevan dengan Permasalahan Sampah di Kabupaten TasikmalayaGebyar STEAM Kabupaten Tasikmalaya Dorong Pelajar SMP Ciptakan Inovasi Solusi Sampah
“Senang banget bisa jaura, jadi materi hasil karya untuk STEAM sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, dan alhamdulillah bisa juara satu,” terangnya.
Salah satu juri Gebyar STEAM SMP, Irman Hirdasah, menyampaikan bahwa penilaian dalam kompetisi tersebut tidak hanya melihat kreativitas, tetapi juga kesesuaian karya dengan konsep STEAM.
Setiap karya peserta harus mampu menunjukkan unsur sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika dalam proses pengembangan maupun penerapannya.
Menurut Irman, karya Eco IoT dari SMP QSBS Cineam memiliki peluang untuk terus dikembangkan karena menawarkan pendekatan teknologi terhadap persoalan pengelolaan sampah.
Inovasi tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan daerah karena mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk cair yang dapat digunakan untuk mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Sementara itu, selain mendapatkan trofi dan sertifikat, para juara juga mendapatkan hadiah uang tunai. Juara I mendapatkan uang tunai senilai Rp 7 juta, Juara II sebesar Rp 4 juta, dan Juara III sebesar Rp 3 juta. (Diki Setiawan)
