RADARTASIK.ID – Rodrigo Mora meninggalkan FC Porto untuk bergabung dengan AS Roma pada bursa transfer musim panas lalu.
Gelandang serang asal Portugal itu membawa ambisi meraih Scudetto bersama klub barunya sekaligus membuka peluang memperkuat tim nasional Portugal.
Dalam wawancara dengan Canal 11, ia membahas kepindahannya dari Porto, pengalaman bermain di Stadion Olimpico, sosok Paulo Dybala, serta targetnya bersama Roma.
Baca Juga:Daftar Pemain Bintang yang Kontraknya Habis Musim Depan: Dari Harry Kane hingga Virgil van DijkInter Tarik Ulur Perpanjangan Kontrak Hakan Calhanoglu, Dario Baccin: Ada Batasan Keuangan
Mora diketahui menghabiskan 19 tahun hidupnya di Porto, termasuk 10 tahun sebagai pemain FC Porto.
Kepindahan ke Roma membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru. Namun, ia menilai perubahan tersebut penting bagi perkembangan kariernya.
“Saya menjalani 19 tahun di Porto, 10 di antaranya bermain untuk FC Porto. Saya datang ke budaya yang berbeda, tetapi saya bahagia dan berpikir ini akan menjadi perubahan positif bagi saya,” ujar Mora.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah bermain di Stadion Olimpico. Menurut Mora, atmosfer stadion tersebut memberi motivasi tambahan.
“Atmsofernya spesial dan membuat Anda sangat ingin mencetak gol,” katanya.
Paulo Dybala menjadi salah satu sosok yang membuat pengalaman Mora di Roma semakin berkesan.
Mora mengaku telah mengenal Dybala sejak kecil. Kini, ia berkesempatan berlatih dan bermain bersama pemain asal Argentina tersebut.
Baca Juga:Ancelotti Dukung Langkah AS Roma dan AC Milan Boyong Endrick dari Real MadridPresiden Napoli Ledek Pemilik AC Milan: Cardinale Cuma Berpikir Soal Finansial
“Saya menontonnya ketika masih kecil dan sekarang bisa berlatih serta bermain di sampingnya. Sangat menyenangkan melihatnya,” kata Mora.
Selain memiliki kualitas sebagai pemain, Dybala juga membantu Mora beradaptasi di Roma.
“Dia adalah orang yang sangat rendah hati dan banyak membantu saya pada periode awal ini. Saya bersyukur bisa bermain di sampingnya,” ungkapnya.
Kepindahan ke Roma bukan keputusan mudah bagi Mora. Porto telah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan akan selalu memiliki tempat khusus di hatinya.
“Perpisahan tidak pernah mudah. Bagi saya, ini sulit karena merupakan periode yang panjang. Porto adalah rumah saya dan saya rasa akan selalu begitu,” ujarnya.
Meski demikian, Mora memahami bahwa setiap perjalanan memiliki siklus yang pada akhirnya harus berakhir.
