Padahal—kata mereka—yang disebut “meninggal” itu masih hidup. Masih hadir di kegiatan. Masih bisa diajak ngopi.
Masih bernapas normal. Itulah yang membuat sebagian kader mengernyitkan dahi.Bukan karena tidak setuju pergantian.
Dalam politik, pergantian itu biasa. Tapi waktu dan alasan, itulah yang membuat tanda tanya membesar.
Baca Juga:Tambang PAD di Kota Tasikmalaya Bernama Event!Pejabat Pemkab Tasikmalaya Membisu Soal Isu Cashback Pinjaman Rp230 Miliar
Apalagi menjelang Muscab. Ajang yang selalu sensitif. Selalu penuh kalkulasi. Di dalam partai, PAC bukan sekadar struktur. Ia adalah suara. Ia adalah kekuatan di tingkat akar rumput.
Mengubah PAC menjelang Muscab, bagi sebagian orang, bukan hanya soal administrasi. Tapi juga strategi.
Apakah ini bagian dari konsolidasi? Atau sekadar penyesuaian organisasi? Belum ada jawaban resmi yang benar-benar menenangkan. Yang ada baru tafsir. Dan tafsir selalu punya dua sisi.
Yang jelas, suhu politik di internal PPP Kota Tasikmalaya mulai naik.
Pelan, tapi pasti. Seperti air yang dipanaskan. Awalnya hangat. Lalu mendidih. Dan Muscab, tinggal hitungan hari. (red)
