Soal Cirahong, Aparat Desa di Tasikmalaya dan Ciamis Kecewa Tak Diberi Ruang Dialog dengan Gubernur

jembatan cirahong
Seorang pengendara mendorong motornya yang mogok di Cirahong, sementara beberapa ibu-ibu asyik berfoto di seberangnya, Selasa (7/4/2026). (permana/radartasik.id)
0 Komentar

Dian menegaskan, keberadaan petugas di lapangan tetap dibutuhkan meskipun fasilitas keamanan ditingkatkan, mengingat masih adanya laporan kejadian pada malam hari. Ia juga menyoroti aspek komunikasi dalam kunjungan tersebut yang dinilainya tidak melibatkan pemerintah desa. Sebagai kepala desa, ia merasa seharusnya dilibatkan dalam setiap evaluasi maupun peninjauan kebijakan.

“Setidaknya ada pemberitahuan. Bisa melalui ajudan, camat, atau langsung ke kepala desa. Kita ingin duduk bersama, berdiskusi, seperti anak kepada bapaknya,” katanya.

Dian juga turut menyoroti dampak kebijakan terhadap warga yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan Cirahong. Hingga kini, menurutnya, belum ada solusi konkret terkait nasib mereka.

Baca Juga:Agus Wahyudin Memilih Tidak Bertarung!ISU ITU CERMIN BUKAN PALU!

“Yang paling krusial itu nasib warga (Kepala Keluarga) yang sudah 30 tahun menggantungkan hidup di sana. Apakah ada kompensasi atau alternatif pekerjaan? Itu yang tunggu,” tandasnya.

Di sisi lain, Dian membantah tudingan adanya praktik pungutan liar yang melibatkan dirinya maupun pemerintah desa.

“Selama tujuh tahun saya jadi kepala desa, tidak pernah menerima uang sepeser pun dari situ,” tegasnya.

Ia mengungkapkan adanya dugaan upaya penggiringan opini publik melalui media sosial yang memperbesar isu pungutan liar di Cirahong. Dirinya mengaku telah menelusuri salah satu akun yang diduga memicu viralnya isu tersebut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa gerakan “Tabayun” bertujuan meredam ketegangan dan membuka ruang komunikasi yang lebih konstruktif antara masyarakat dan pemerintah.

“Kami ingin menurunkan tensi. Tidak lagi mempermasalahkan hal-hal yang memicu konflik. Intinya, kami ingin duduk bersama dan mencari solusi terbaik,” ucapnya.

Ia juga mengakui sebelumnya merupakan pendukung Gubernur, namun peristiwa ini membuat tingkat kepercayaannya menurun.

Baca Juga:Pertarungan di Ka’bah Hijau: Muda Melawan Tua, Masa Depan Dipertaruhkan!Puluhan Ribu Motor Listrik Disebut Siap Didistribusikan ke Tiap SPPG di Jabar, Harga Motor Rp 56,8 Juta

“Saya ini pendukung beliau. Saya merupakan bagian dari komunitas Soulmate Kang Dedi (SKD) Tapi setelah ini, rasa simpati saya turun. Jangan sampai rasa itu hilang, apalagi ketika saya harus memperjuangkan kepentingan rakyat,” ungkap dia.

“Hade goreng Oge Rahayat urang, urang salaku anu dikolotkeun kudu merjuangkeun aspirasi Rahayat urang,” sambungnya. (Radika Robi Ramdan)

0 Komentar