Ia melihat sikap acuh para pemain merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap pengorbanan yang selama ini ia lakukan demi klub.
Pernyataan ini pun langsung memicu perdebatan, karena jarang terjadi seorang presiden klub mengungkap kekecewaan personal secara terbuka.
Dalam bagian lain pernyataannya, D’Errico juga menyinggung peran agen pemain yang menurutnya semakin merusak ekosistem sepak bola.
Baca Juga:Hasil Liga Champions: PSG Tekuk Liverpool, Atletico Tumbangkan Barcelona di Camp NouLaporta Ingin Boyong Leao ke Barcelona, AC Milan Buka Opsi Barter Pemain
Ia menyebut banyak pihak kini hanya berorientasi pada uang, tanpa lagi menghargai loyalitas dan dedikasi terhadap klub.
Ia bahkan menggunakan istilah keras dengan menyebut sebagian pemain sebagai “tentara bayaran” yang tidak lagi memahami arti membela lambang klub.
“Saya lelah menghadapi agen yang melihat klub seperti objek untuk dieksploitasi, serta pemain yang tidak tahu lagi arti menghormati seragam yang mereka kenakan,” sindirnya.
D’Errico menegaskan bahwa dirinya tidak lagi bersedia menjadi “mesin uang” bagi pihak-pihak yang tidak memiliki rasa hormat dan etika.
Di akhir pernyataannya, D’Errico menyatakan bahwa dirinya menyerahkan Frattese kepada siapa pun yang siap menghadapi situasi klub yang ia sebut sebagai “sirkus”.
Meski demikian, ia tetap menyampaikan terima kasih kepada dua pemain yang dianggap masih memiliki nilai serta kepada para suporter sejati.
Pengunduran diri ini menandai berakhirnya satu era di Frattese. Lebih dari itu, kasus ini menjadi gambaran kecil dari dinamika dan konflik yang juga kerap terjadi di dunia sepak bola, bahkan hingga ke level bawah.
Baca Juga:Pemilik AS Roma Pertahankan Trio Gasperini, Massara dan Ranieri: Dybala dan Pellegrini Dipersilakan HengkangDaftar Pencetak Gol Terbanyak Eropa: Mbappe Samai Rekor Pippo Inzaghi dan Ronaldo
Kini, Frattese harus bersiap menghadapi masa depan tanpa sosok presidennya, sementara pernyataan D’Errico kemungkinan besar masih akan menjadi perbincangan hangat dalam waktu dekat.
