TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Warga dan pelajar di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, setiap hari dihadapkan pada risiko keselamatan saat beraktivitas.
Ketiadaan akses jalan yang layak memaksa mereka memilih antara dua jalur berbahaya: melintasi jembatan gantung yang rusak atau menerobos arus sungai di atas jembatan beton yang kerap terendam banjir.
Kondisi ini mencerminkan buruknya aksesibilitas di wilayah selatan Tasikmalaya. Jembatan yang menjadi penghubung antar-desa tersebut kini berstatus darurat dan berpotensi mengancam keselamatan, terutama saat musim hujan.
Baca Juga:Tingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar PelatihanSerap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa
Ketua Karang Taruna Desa Nagrog, Muharom, menjelaskan terdapat dua titik krusial yang digunakan masyarakat. Jembatan pertama merupakan jembatan gantung dengan lantai papan kayu yang ditopang sling baja.
“Kondisi jembatan tersebut sudah sangat tidak stabil, posisi lantai tampak miring, besi jalur bawah dilaporkan putus, dan mayoritas papan kayu sebagai pijakan telah lapuk dimakan usia,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Sementara itu, alternatif kedua adalah jembatan beton dengan posisi rendah, hampir sejajar dengan dasar sungai. Secara material terlihat lebih kokoh, namun memiliki risiko tinggi karena mudah terendam saat debit air meningkat.
Bagi para siswa, kedua jembatan ini menjadi akses utama menuju sekolah. Tanpa jalur tersebut, mereka harus menempuh perjalanan memutar dengan waktu yang jauh lebih lama. Kondisi ini membuat mereka terpaksa mengambil risiko setiap hari demi mengenyam pendidikan.
Saat debit air meningkat, jembatan beton kerap tertutup air. Pengendara sepeda motor yang nekat melintas berisiko kehilangan kendali dan terseret arus. Akibatnya, aktivitas ekonomi, layanan kesehatan, dan pendidikan warga kerap terhenti total ketika sungai meluap.
Muharom menegaskan, kerusakan jembatan gantung sudah berada pada tahap kritis dan tidak layak digunakan. Namun, warga masih terpaksa mengandalkannya untuk aktivitas sehari-hari.
“Kalau air sedang tinggi, akses motor berhenti total. Jembatan beton tertutup air, sementara jembatan gantung terlalu berisiko untuk beban berat,” tambahnya.
Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Karom Apresiasi Respons Pemda Soal Skema Gaji PPPK Paruh WaktuSSF Bersama Jampidum Menebar Kebaikan di Tasikmalaya, Bagikan Ratusan Sembako dan Santuni Anak Yatim
Ia juga menyoroti dampak luas kerusakan infrastruktur tersebut terhadap perekonomian desa. Terhambatnya mobilitas membuat aktivitas warga tidak berjalan optimal.
