Dalam situasi serba menggantung, warga akhirnya rutin melakukan “tambal sulam” jembatan secara mandiri—setidaknya dua kali dalam setahun.
Material seadanya, tenaga swadaya, dan harapan yang terus dipaksa bertahan.
Namun perbaikan ini jelas bukan solusi jangka panjang. Struktur jembatan tetap rentan, apalagi saat musim hujan dan debit air meningkat.
Di Kota Tasikmalaya, kisah ini seperti pengulangan lama: ketika anggaran tersendat, warga dipaksa menjadi pelaksana.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga Besok ASN Kota Tasikmalaya Mulai WFH, Birokrasi Dipaksa Lebih Hemat
Dan gotong royong sekali lagi menjadi penambal dari janji yang belum juga ditepati. (ayu sabrina barokah)
