Sementara itu, warga yang tinggal di rumah tak layak huni hanya bisa berharap.
Sebagian mengaku sudah bertahun-tahun hidup dalam kondisi serba terbatas—berjuang melawan bocor saat hujan, hingga waswas ketika angin kencang datang.
Potret ini menegaskan, rutilahu bukan sekadar soal bangunan.
Ia adalah cermin ketahanan hidup masyarakat lapisan bawah—yang kerap luput di tengah riuhnya proyek dan seremoni pembangunan.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga Besok ASN Kota Tasikmalaya Mulai WFH, Birokrasi Dipaksa Lebih Hemat
Langkah turun lapangan yang dilakukan Kepler setidaknya membuka kembali mata publik.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah 25 rumah ini akan benar-benar diperbaiki, atau kembali masuk daftar tunggu panjang bernama “tahun depan”? (ayu sabrina barokah)
