Orang seperti ini biasanya paham dapur partai. Tahu letak kompor. Tahu di mana api harus dinyalakan.
Nama kedua: Riko Restu Wijaya. Usianya jauh lebih muda. Bahkan masih dalam kategori generasi baru di panggung politik lokal.
Ia lahir di Tasikmalaya, 24 September 2000. Saat dilantik menjadi anggota DPRD, usianya masih 20-an. Salah satu yang termuda.
Baca Juga:Aktivis Mahasiswa Sebut DPRD Kota Tasikmalaya Gagal Mengawal Penyelesaian BanjirRumah Ono Surono Digeledah KPK Saat Dirinya Konsolidasi Partai di Aula Kesbangpol Kota Tasikmalaya
Namun jangan salah membaca usia. Dalam politik, jaringan sering lebih penting dari umur. Riko membuktikannya di Pemilu Legislatif 2024. Ia meraup lebih dari 7.000 suara. Angka yang tidak kecil untuk pendatang muda.
Latar belakangnya tidak jauh dari politik. Ia putra dari H Jani Wijaya, salah satu tokoh PPP di Kota Tasikmalaya. Kini Riko menjabat Ketua Fraksi PPP. Ia juga memimpin Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Kota Tasikmalaya.
Pendidikan hukumnya membentuk cara berpikirnya, sistematis, argumentatif. Tapi kekuatannya bukan hanya itu.
Ia rajin turun ke menyapa warga. Ia tampaknya ingin dikenal bukan sebagai “yang terhormat”. Tapi sebagai “yang bisa dihubungi”.
Secara branding politik, ia cukup lengkap untuk ukuran generasi baru, aktif di media sosial, punya slogan, rajin sambang warga.Politik hari ini bukan hanya soal struktur. Tapi juga persepsi. Dan Riko tampaknya memahami itu.
Nama ketiga: Enjang Bilawini. Nama ini mungkin yang paling matang dari sisi pengalaman elektoral.
Ia pernah duduk empat periode di DPRD. Itu bukan waktu yang singkat. Itu pengalaman yang panjang. Dan dalam politik, pengalaman sering menjadi mata uang yang mahal.
Baca Juga:Tiang Reklame Mengancam Keselamatan, Perlu Pemeriksaan Usai Cuaca Ekstrem2026 Penuh Teriakan! Mulai Pencairan Proyek Sampai Urusan THR
Enjang dikenal sebagai kader potensial PPP. Tidak banyak bicara di depan publik, tetapi jejaknya panjang di lapangan.
Empat periode berarti ia pernah menang empat kali. Itu artinya ia tahu bagaimana menjaga basis. Tahu bagaimana merawat pemilih. Tahu bagaimana bertahan di tengah badai politik. Dan di partai, orang seperti ini biasanya punya loyalis. Tidak selalu terlihat. Tapi ada.
Sehingga pertarungan ini dipastikan menghangat. Bukan karena tiga nama ini saling berhadapan secara terbuka. Tapi karena sistem formatur membuat semuanya terasa senyap—namun tegang.
