TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Harga bahan baku industri plastik melonjak tajam di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Ketika perhatian publik lebih banyak tertuju pada aspek militer dan geopolitik, dampak ekonominya justru mulai terasa hingga ke sektor industri, termasuk plastik.
Kenaikan ini terjadi meskipun pemerintah tidak jadi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menandakan bahwa tekanan global tetap berpengaruh langsung terhadap rantai pasok bahan baku.
Baca Juga:Kota Tasikmalaya di Panggung Ketiga "Surga Kuliner" di Jawa Barat!Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang Berkuasa
Lonjakan harga bijih plastik dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dan gas dunia—dua komoditas utama yang menjadi bahan dasar produksi plastik.
Konflik di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat energi global, menyebabkan ketidakpastian pasokan serta kenaikan harga minyak mentah.
Akibatnya, biaya produksi petrokimia ikut meningkat, dan berdampak pada harga bijih plastik yang kini dilaporkan naik hingga dua kali lipat.
Kondisi ini juga diperparah oleh meningkatnya biaya logistik dan distribusi akibat risiko keamanan di jalur perdagangan internasional.
Kenaikkan harga bahan baku ini secara langsung mempengaruhi pasar. Barang-barang berbahan plastik mulai mengalami lonjakan harga cukup tajam.
Pengusaha plastik asal Tasikmalaya, Lungnajaya, mengakui itu. Dampak peperangan di Timur Tengah sangat terasa pada usahanya.
Owner pabrik plastik Dollar ini menyebut kenaikan harga bijih plastik mencapai 100 persen. Sementara harga jual ke konsumen baru bisa naik kurang lebih 60 persenan.
Baca Juga:Konser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?
“Pasaran barang jadi (plastik, red) sudah mulai sepi karena naik harganya cukup tinggi,” akunya kepada Radartasik.id, Senin (6/4/2026).
Dia pun mulai khawatir, jika perang tak juga mereda, bahan baku plastik tidak hanya mahal, tapi juga bakal langka. Pasokan dapat terhambat dan menggangu kelancaran produksi.
“Bisa-bisa kalau perang berlanjut terus, dan biji plastik kosong, pabrik berhenti dulu karena tidak punya bahan baku,” paparnya.
Untuk sementara ini, pasokan bahan baku masih lancar meski jadi lebih ketat dan harus bayar cash.
Namun karena permintaan pasar mulai menurun, pihaknya juga mulai mengurangi jumlah produksi. Meski begitu, karyawan tetap dipertahankan. Tak ada pengurangan.
