“Pasti (mabuk, red). setiap kali mau berhubungan pasti mabuk dulu, biar gak inget dan gak menikmati,” ungkapnya.
Uang pertama yang ia peroleh langsung dikirim ke kampung halaman untuk kebutuhan anaknya.
Seiring waktu, jumlah pelanggan bertambah. Dalam sehari, ia bisa melayani hingga dua orang, dengan bayaran ratusan ribu rupiah.
Baca Juga:Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang BerkuasaKonser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!
Mayoritas pelanggan berusia di atas 40 tahun, dengan latar belakang pekerjaan yang beragam.
Ia juga memanfaatkan WhatsApp untuk menarik pelanggan, namun tidak membuka layanan melalui aplikasi kencan.
Dalam sebulan, penghasilannya bisa mencapai Rp9 juta hingga Rp12 juta.
“Ya kadang tidak tentu, nilai segitu masih kotor,” jelasnya.
Dari penghasilan tersebut, ia mampu membeli dua sepeda motor dalam waktu singkat. Sebagian uang dikirim ke keluarga, sisanya digunakan untuk kebutuhan pribadi.
“Paling gede buat skin care,” ucapnya.
Sesekali, ia mendapat tawaran untuk “check in” di hotel dengan bayaran lebih besar.
“Jadi istilahnya dicabut dari hotel, biayanya Rp 500 ribu untuk biaya cabut, ke akunya Rp 1juta, ya harus sedia uang yang besar kalau mau cabut,” jelasnya.
Namun, menurutnya, tidak banyak pelanggan yang memilih opsi tersebut.
Di balik penghasilan yang relatif besar, terdapat risiko yang harus dihadapi. Ia mengaku kerap mengalami kekerasan verbal hingga fisik dari pelanggan, terutama saat mereka dalam kondisi mabuk.
Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!
Selain itu, kondisi kesehatan juga menjadi ancaman, terlebih ketika hubungan dilakukan tanpa alat pengaman.
Ia juga harus siap menghadapi razia aparat. Beberapa kali, ia terpaksa mengungsi untuk menghindari penertiban. Dalam kondisi sakit pun, ia tetap bekerja.
“Selama masih bisa bangun, tidak terlalu parah, cuman pegel-pegel doang, kerja aja terus,” ucapnya.
Meski demikian, Harum tidak ingin selamanya berada di dunia tersebut. Ia berharap bisa berhenti suatu hari nanti, setelah kondisi ekonomi lebih stabil dan anaknya tumbuh besar.
“Saat ini cari pekerjaan susah banget, jadi sekarang mah jalani aja dulu (pekerjaan sebagai PSK),” tuturnya.
