Di Balik Gemerlap Wisata Pangandaran: Praktik Prostitusi Tak Pernah Mati

prostitusi pangandaran
ilustrasi: AI
0 Komentar

Sekembalinya ke kampung halaman, ia sempat menganggur dua tahun sebelum akhirnya bekerja di rumah makan.

Tahun 2018 menjadi titik awal perkenalannya dengan dunia malam. Ia bekerja di sebuah kafe di kawasan wisata Pangandaran milik tetangganya.

“Awal-awalnya hanya nemenin minum (tamu) saja, dapati tip Rp 50 sampai Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Baca Juga:Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang BerkuasaKonser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!

Namun pekerjaan itu tidak berlangsung lama, meski sempat memberinya penghasilan cukup untuk membeli sepeda motor—setengah bodong.

Pada 2020, ia berhenti bekerja dan menikah siri, meski hanya bertahan beberapa bulan.

Tak lama berselang, ia kembali menikah dengan pria yang usianya terpaut cukup jauh, hasil perjodohan orang tua.

“Nikah lagi di tahun 2020, ya dijodoh-jodohkan sama orang tua,” katanya.

Awalnya rumah tangga berjalan normal, hingga perlahan goyah akibat kebiasaan suaminya yang kecanduan judi online.

Bahkan, satu-satunya kendaraan mereka harus dijual. Selama hampir lima tahun, kondisi ekonomi keluarga terus memburuk.

“Saya cerai tahun 2025, berati lima tahun,” ungkapnya.

Di tengah pernikahan itu, Harum sempat membantu ekonomi keluarga dengan melakukan live di TikTok.

Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!

“Jadi dapat komisi, bisa dapat keuntungan Rp 4 juta per bulan, tapi kadang gak tentu,” ujarnya.

Namun penghasilan tersebut tak mampu menahan laju kerugian akibat kebiasaan suaminya berjudi.

“Jadi waktu nikah, aku live TikTok, dia terus judi online,” katanya.

Pasca perceraian, ia menghadapi kesulitan ekonomi. Hingga akhirnya, sebuah tawaran datang dari temannya untuk bekerja di kafe kawasan Batu Hiu.

“Saya kerja itu sekitar pertengahan tahun 2025, awalnya nanyain loker ke temen, sampai akhirnya nawarin kerja di kafe. Kata dia, kalau aku kerja di kafe, pasti bakal laku,” ungkapnya.

Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan. Awalnya, ia hanya menemani tamu minum. Namun situasi berkembang.

“Awalnya cuman minum sama om-om, lalu dia nawar buat check in Rp 400 ribu dan mau saja,” aku Harum.

Ia mengaku, selalu menjalani pekerjaan tersebut dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar. Selalu menenggak miras lebih dulu.

0 Komentar