PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Pangandaran, salah satu surga wisata pantai di Priangan Timur. Punya banyak spot untuk bersenang-senang. Sekadar menikmati ombak, atau menyelam. Bahkan bermain papan seluncur atau surfing.
Pantai Barat, Pantai Timur, Pantai Batu Hiu, Pantai Batukaras, hingga Madasari, semuanya asyik dikunjungi. Tiap pantai punya keunggulan masing-masing. Dan, itu yang pada akhirnya jadi unggulan pemerintah daerah untuk mendapat pemasukan.
Namun di balik keunggulan pariwisatanya, Pangandaran belum bisa lepas dari penyakit sosial yang mengakar: prostitusi. Ini adalah bagian kelam dunia pariwisata. Semua orang tahu. Tapi sangat sulit diberantas.
Baca Juga:Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang BerkuasaKonser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!
Besarnya permintaan, memerlukan pelayanan. Sebagian wisatawan datang ke Pangandaran bukan hanya ingin menikmati pantai. Tapi sisi lainnya. Itulah kenapa prostitusi tetap tumbuh subur.
Di salah satu sudut Kecamatan Parigi, tepatnya kawasan Pantai Batu Hiu, gambaran itu terlihat jelas.
Saat matahari mulai tenggelam, lampu kafe remang-remang menyala. Tanda dimulainya aktivitas malam.
Di pelataran, pria dari berbagai usia tampak berkumpul. Sebagian hanya duduk santai. Menikmati kopi dan rokok. Sebagian lagi sekadar “kongkow” melepas penat.
Namun perhatian tidak berhenti pada kerumunan itu. Di depan kafe, perempuan-perempuan dengan pakaian minim dan riasan mencolok berjejer.
Sesekali melontarkan sapaan genit kepada pria yang melintas di jalan Batuhiu yang kini sudah mulus.
Ketika seorang tamu berhenti, dentuman musik dari dalam kafe langsung terdengar—pertanda aktivitas utama dimulai.
Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!
Mereka adalah pekerja seks komersial (PSK), yang tak hanya menemani tamu minum, tetapi juga melayani kebutuhan lain.
Di balik lampu temaram dan musik yang menghentak, terdapat kisah-kisah hidup yang jarang terungkap.
Salah satunya adalah Harum—bukan nama sebenarnya. Perempuan berusia 24 tahun itu memiliki satu anak berusia empat tahun dan berstatus janda.
Ia berasal dari sebuah desa di Kecamatan Padaherang, tempat ia menghabiskan masa kecil seperti anak-anak pada umumnya—bermain, belajar, hingga mengaji.
Setelah lulus SMP pada 2014, ia memilih merantau ke Tangerang dan bekerja di sebuah toko.
“Saya lulus SMP tahun 2014, lalu kerja di Tanggerang selama 1 tahun sampai 2015,” ungkapnya.
