Di meja itu, pengalaman duduk berdampingan dengan kenyataan. Yang tua tidak lagi berkuasa. Yang muda sedang berkuasa. Tapi yang tua masih punya sesuatu: perspektif.
Dan mungkin—peringatan. Bahwa membangun kota tidak cukup dengan jabatan. Harus dengan komunikasi.
Harus dengan mendengar. Terutama kepada mereka yang pernah lebih dulu berjalan.
Baca Juga:Konser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?
Silaturahmi itu selesai. Tidak ada keputusan. Tidak ada deklarasi. Tapi ada pesan yang menggantung di udara Sukasari: Kadang, masalah kota bukan karena kurang orang pintar. Tapi karena kurang duduk satu meja. (red)
