Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang Berkuasa

kota tasikmalaya
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, bersama tokoh-tokoh yang pernah memimpin Kota Tasikmalaya di masa lalu.(IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADAR TASIK.ID – Minggu pagi itu terasa teduh. Jalan Sukasari. Kota Tasikmalaya tidak ramai. Tapi di satu titik—suasananya hangat.

Bukan karena kopi. Bukan pula karena cuaca. Tapi karena yang duduk di sana. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka pernah memegang kendali. Pernah menentukan arah. Pernah jadi pusat keputusan.

Ada H Suljana. Ada Syarif Hidayat. Ada Budi Budiman. Ada H.M. Yusuf. Lengkap. Ditambah Dede Sudrajat. Dan para pensiunan pejabat lainnya. Juga tokoh masyarakat: Heri Hendriyana, Zenzen Zainudin, Basuki Rahmat.

Baca Juga:Konser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?

Mereka duduk satu meja. Tidak ada sekat. Tidak ada protokol. Tidak ada kursi khusus. Guyub. Kompak. Bersahaja. Seperti orang-orang yang sudah selesai dengan egonya.

Acara itu sederhana: silaturahmi Persatuan Wredatama Republik Indonesia. Tapi maknanya tidak sederhana. Karena yang hadir adalah “arsip hidup” Kota Tasikmalaya.

Mereka tahu dari mana kota ini datang. Dan mungkin lebih tahu ke mana seharusnya kota ini pergi.

Namun justru di situlah yang terasa ganjil. Yang hadir hampir semua “yang pernah”. Yang tidak hadir: “yang sedang”. Pemerintah Kota Tasikmalaya hari ini hanya diwakili satu orang. Diky Candra. Ia datang. Ia duduk. Ia mendengar. Ia juga meminta maaf.

Dengan kalimat yang jujur—dan mungkin berat.

“Saya meminta maaf, bilamana pola komunikasi ‘junior–senior’ masih jauh dari yang diharapkan.” Kalimat itu pendek. Tapi dalam. Karena masalahnya memang di situ yakni komunikasi.

Lalu, di mana wali kota? Viman Alfarizi tidak terlihat. Padahal pagi harinya ada aktivitas. Sekitar pukul 08.00 WIB, ia menghadiri halal bihalal PCNU di Jalan Dokar.

Jaraknya? Hanya beberapa meter dari Jalan Sukasari. Secara fisik: dekat. Secara simbolik: terasa jauh. Belum ada penjelasan. Belum ada keterangan resmi. Padahal forum itu bukan sekadar temu kangen.

Baca Juga:Empat Kantong di Musda Golkar!SDM Kota Tasikmalaya Terendah (2): Efek yang Tidak Terlihat, Tapi Terasa!

Seperti ditegaskan Syarif Hidayat: Ini bukan nostalgia. Ini ruang menata ulang arah. Arah pembangunan kota. Yang—kata banyak orang sedang tidak baik-baik saja.

0 Komentar