Kota Tasikmalaya di Panggung Ketiga "Surga Kuliner" di Jawa Barat!

Kuliner
Foto: jabar stats
0 Komentar

Kota Tasik sudah naik podium. Sekarang, tantangannya sederhana—bertahan atau hanya lewat sebentar.

Angka 1.616. Cukup untuk membuat Kota Tasikmalaya berdiri tegak di posisi tiga besar kuliner Jawa Barat.

Tapi angka juga bisa menipu. Karena setelah jumlah tercapai, pertanyaan berikutnya apa yang tersisa?

Baca Juga:Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang BerkuasaKonser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!

Saya teringat satu hal sederhana. Orang tidak kembali ke tempat makan karena jumlahnya banyak. Tapi karena rasanya tinggal. Di sinilah ujian Kota Tasik dimulai.

Selama ini, kota-kota seperti Kota Bandung tidak hanya menjual banyaknya tempat makan. Mereka menjual pengalaman. Cerita. Bahkan gaya hidup.

Ngopi bukan sekadar minum kopi. Tapi duduk. Berlama-lama. Berfoto. Lalu kembali lagi. Kota Tasik belum sepenuhnya ke sana. Ia masih kuat di “perut”. Belum sepenuhnya masuk ke “kepala” dan “hati”.

Padahal persaingan ke depan bukan lagi soal siapa paling banyak buka warung. Tapi siapa paling diingat.

Lihat Kota Bekasi. Jumlahnya memang tinggi. Tapi ia hidup karena arus manusia yang tidak pernah berhenti.

Kota Depok pun sama. Kota penyangga. Lapar datang setiap hari. Kota Tasik tidak punya kemewahan itu. Ia harus menciptakan alasan orang datang. Atau minimal—alasan orang kembali. Di titik ini, jumlah tidak lagi cukup.

Karena semakin banyak usaha kuliner, semakin ketat persaingan di dalamnya. Yang lemah akan gugur. Yang biasa-biasa saja akan dilupakan.

Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!

Yang bertahan hanya dua: yang punya rasa dan yang punya cerita. Kota Tasik sebenarnya punya modal.

Budaya. Tradisi. Rasa lokal yang kuat. Nasi tutug oncom. Mie bakso khas. Aneka jajanan kampung yang tidak dibuat-buat.

Tapi apakah itu sudah dikemas? Atau masih dibiarkan menjadi rahasia lokal?

Di era sekarang, makanan tidak cukup enak. Ia harus “terlihat enak”. Ia harus bisa difoto. Dibagikan. Diceritakan ulang. Kalau tidak, ia akan kalah oleh yang biasa—tapi viral. Ini bukan soal mengikuti tren. Tapi soal bertahan hidup.

Karena di dunia kuliner hari ini, yang tidak terlihat dianggap tidak ada. Kota Tasik sudah punya jumlah. Sekarang ia ditantang untuk punya identitas.

0 Komentar