TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sempat mengira Kota Tasikmalaya akan berada di tengah-tengah. Ternyata tidak. Ia naik ke panggung tiga. Bukan panggung kecil. Ini panggung kuliner Jawa Barat.
Angkanya 1.616. Banyak? Ya. Tapi bukan itu yang paling menarik. Yang menarik, siapa yang ada di atasnya. Itu terlihat dari data yang dirilis Jabar Stats.
Kota Bekasi terlalu jauh di depan. 3.099 usaha kuliner. Hampir seperti berlari sendirian. Tidak ada yang benar-benar menempel.
Baca Juga:Mereka Pernah Memimpin, Kini Duduk Semeja, Tanpa yang Sedang BerkuasaKonser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!
Di belakangnya ada Kota Depok. 1.886 usaha. Masih terpaut jauh, tapi setidaknya masih terlihat di kaca spion.
Lalu Kota Tasikmalaya. Ia tidak berisik. Tidak banyak klaim. Tapi diam-diam mengumpulkan 1.616 usaha. Dari warung sederhana sampai kafe kekinian.
Di bawahnya, Kota Bogor dengan 1.424. Kota hujan itu harus rela satu tingkat di bawah Kota Tasikmalaya.
Ini menarik. Empat besar semuanya kota. Tidak ada kabupaten. Seolah-olah kuliner tidak lagi sekadar soal resep. Tapi soal kepadatan manusia. Ritme hidup. Dan kebiasaan makan di luar.
Orang kota jarang punya waktu. Tapi selalu punya alasan untuk makan. Kota Tasikmalaya masuk di dalamnya. Padahal Kota Tasik bukan metropolitan seperti Bekasi atau Depok. Bukan juga kota wisata utama seperti Bogor.
Tapi ia punya sesuatu: pergerakan. Pergerakan orang. Pergerakan uang. Pergerakan selera.
Di bawahnya lagi ada Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, lalu Kota Bandung di angka 1.033. Ini yang agak mengejutkan.
Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!
Bandung yang sering disebut ibu kota kuliner justru ada di posisi tujuh. Mungkin selama ini kita salah melihat. Kuliner bukan hanya soal terkenal. Tapi soal jumlah yang bertahan.
Lalu muncul Pangandaran. 982 usaha. Ini bukan kota besar. Tapi wisata membuatnya hidup. Orang datang. Lapar. Makan. Uang berputar. Sederhana. Di bawahnya ada Sumedang dan Kota Sukabumi. Daftar selesai.
Tapi ceritanya belum. Karena angka-angka ini menyimpan pertanyaan yang lebih penting. Apakah Kota Tasikmalaya sudah siap dengan posisi ketiganya?
Jumlah boleh banyak. Tapi apakah kualitas ikut tumbuh? Apakah pelayanan ikut naik?
Atau jangan-jangan… hanya ramai di angka, tapi sepi di rasa?
