Bagi Diky, ini bukan sekadar gaya, tapi sikap.“Ya selain itu saya tidak nyaman kalau pakai baju mahal. Kecuali aturan dinas,” terangnya.
Ia menyebut penggunaan karya Rukmini sebagai bentuk penghargaan terhadap seniman lokal.
Bahkan, ia mengaku sudah lama memakai karya tersebut—sebagian dibeli, sebagian didapat sebagai bentuk apresiasi.
Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!
Pilihan itu sekaligus menjadi pesan halus: mencintai daerah tak selalu harus lewat pidato panjang atau program besar. Kadang cukup dengan memakai karya warganya sendiri.
Diky juga menyinggung kualitas produk kreator lokal Tasikmalaya yang menurutnya tidak kalah bersaing.
Ia menyebut beberapa nama seperti Dudi D’Mantez dan Budi Parhon sebagai contoh pelaku kreatif yang layak mendapat panggung lebih luas.“Kaosnya bagus,” ucapnya singkat.
Di tengah budaya pejabat yang kerap terjebak simbol kemewahan, langkah Diky bisa dibaca sebagai sindiran halus: bahwa kedekatan dengan rakyat tidak diukur dari mahalnya pakaian, tapi dari seberapa sering menyentuh realitas mereka.
Dan di Kota Tasikmalaya hari ini, komunikasi yang jujur dan keberpihakan yang sederhana—justru terasa lebih mahal dari sekadar jas resmi.
Dalam pertemuan ini, juga turut hadir Bupati Tasikmalaya 1996-2001, H Suljana WH, mantan Kadistarkim Kota Tasikmalaya Yono S Karso, mantan Kepala Bappelitbangda, Tarlan, mantan kepala Bapenda, Achdiat, mantan Kadishub, Rachmat Kurnia dan lain sebagainya.
Sementara itu Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan tak hadir dalam pertemuan tersebut dan mewakilkan kepada Diky.
Baca Juga:Dangdut Menyatukan yang Berbeda Usia! Curi Motor Rekan Kerja di Kota Tasikmalaya karena Terjerat Judi Slot
Padahal Viman sempat hadir dalam agenda Halal Bihalal di Kantor PC NU Kota Tasikmalaya.
Hal tersebut tentu menjadi pertanyaan di kala semua sepuh dan eks Wali Kota mengusahakan waktunya untuk datang untuk ingin mendengar dan mengetahui arah Kota Tasikmalaya ke depan. (rezza rizaldi)
