Diincar Juventus, Bernardo Silva Mengaku Tak Bahagia di Manchester

Bernardo Silva
Bernardo Silva Foto: Tangkapan layar Instagram@bernardocarvalhosilva
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Gelandang kreatif Bernardo Silva memberikan pernyataan menarik yang membuka peluang kepindahannya dari Manchester City pada akhir musim ini.

Dalam wawancaranya di podcast resmi klub, pemain asal Portugal tersebut secara terbuka mengakui bahwa kehidupan di Manchester tidak sepenuhnya sesuai dengan harapannya secara pribadi.

Pernyataan ini langsung memicu spekulasi di bursa transfer, terutama karena kontraknya bersama City akan segera berakhir.

Baca Juga:Bahagia di Juventus, Conceicao Tak Tertarik Jadi Pengganti Salah di LiverpoolChelsea Bidik Pavlovic dan Bocah 16 Tahun Milik Olympique Marseille

Sejumlah klub top Eropa mulai memantau situasinya, termasuk Juventus yang dikabarkan sangat serius ingin memboyongnya ke Serie A.

Pelatih Luciano Spalletti bahkan disebut telah merekomendasikan Silva sebagai sosok ideal untuk memperkuat lini tengah tim.

Dalam perbincangan tersebut, Silva terlebih dahulu menyoroti hubungannya dengan Manchester City yang selama ini sangat positif.

Ia menegaskan kecintaannya terhadap klub, rekan setim, hingga atmosfer stadion yang menurutnya luar biasa.

“Budaya Portugal dan Inggris cukup berbeda, begitu juga dengan zona waktu, makanan, hingga gaya hidup. Saya sering bercanda, jika Manchester City berada sedikit lebih ke selatan di Eropa, saya akan bertahan di sini seumur hidup,” ujarnya.

Silva tidak ragu menyebut bahwa secara profesional, ia merasa sangat nyaman di klub yang bermarkas di Etihad Stadium tersebut.

Ia menyukai lingkungan kerja, staf pelatih, serta dukungan suporter yang selalu memberikan energi positif bagi tim.

Baca Juga:Bruno Fernandes Dukung Langkah Manchester United Curi Sandro TonaliAl Ittihad Ajukan Tawaran Fantastis Rp1,7 Triliun untuk Mohamed Salah

Namun, di balik kenyamanan profesional itu, ada sisi lain dalam kehidupannya yang tidak sepenuhnya ia nikmati.

Silva secara jujur mengungkapkan bahwa faktor budaya dan kehidupan pribadi menjadi alasan utama dirinya kerap mempertimbangkan untuk hengkang.

“Saya tidak mengatakan tidak menyukainya, tetapi secara budaya Manchester bukan tempat yang ideal bagi hidup saya. Terkadang saya tidak terlalu bahagia,” ungkapnya.

Ia bahkan mengakui bahwa sebelum bertemu dengan istrinya, masa-masa awal tinggal di Manchester cukup berat secara emosional.

Rasa kesepian sempat membuatnya berpikir untuk meninggalkan klub lebih cepat.

“Sebelum bertemu istri saya, saya sendirian di Manchester dan tidak merasa baik dengan diri saya sendiri. Saya sering berpikir untuk pergi, bukan karena tidak menyukai klub, tetapi karena aspek lain dalam hidup saya,” jelasnya.

0 Komentar