Berdasarkan kesepakatan dengan UEFA beberapa tahun lalu, klub harus menyeimbangkan keuangan sebelum 30 Juni mendatang.
Hal ini bisa memaksa Roma untuk menjual beberapa pemain kunci seperti Mile Svilar, Evan Ndicka, atau Manu Koné.
Setelah itu, Roma harus melakukan pembangunan ulang skuad yang kemungkinan membutuhkan sekitar 10 pemain baru, termasuk 4 hingga 5 pemain inti.
Baca Juga:Incar Kiper Tottenham, Petinggi Inter Terbang ke LondonTak Terima Gelar Piala Afrika Diserahkan ke Maroko, Pelatih Senegal Pamer Piala bersama Tentara
Sebuah pekerjaan besar yang tentu tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat.
Dalam dua bursa transfer terakhir, Roma mencatat defisit sekitar €30 juta atau setara Rp510 miliar (kurs €1 = Rp17.000).
Klub memperoleh sekitar €60 juta (Rp1,02 triliun) dari penjualan pemain seperti Enzo Le Fée, Tammy Abraham, Dahl, dan Nicola Zalewski.
Namun di sisi lain, mereka mengeluarkan sekitar €90 juta (Rp1,53 triliun) untuk mendatangkan pemain seperti Wesley, Azzedine Ounahi (El Aynaoui), Robinio Vaz, Ghilardi, dan Ziolkowski, serta membiayai peminjaman pemain seperti Malen, Leon Bailey, Evan Ferguson, dan Bryan Zaragoza.
Dari sejumlah nama tersebut, hanya Wesley dan Malen yang dinilai langsung memberikan dampak signifikan.
Malen bahkan tampil impresif dengan mencetak tujuh gol dalam sembilan pertandingan liga.
De Magistris juga mengungkap adanya ketegangan antara Gasperini dan Massara yang sudah terjadi sejak musim panas lalu.
Perbedaan pandangan dalam urusan transfer menjadi salah satu sumber masalah.
Baca Juga:Blerim Dzemaili: Saya Menolak AC Milan demi Bolton, Betapa Bodohnya SayaBeppe Marotta Akui Inter Seperti Kelinci yang Diburu: Lebih Mudah Jadi Pemburu
Jika target empat besar gagal tercapai, bukan tidak mungkin keduanya tidak lagi bekerja sama musim depan.
Dalam situasi tersebut, pemilik klub, keluarga Friedkin family, bersama Claudio Ranieri akan mengambil keputusan penting demi menjaga stabilitas klub.
Nama Cristiano Giuntoli mulai disebut sebagai kandidat pengganti Massara. Sosoknya dinilai cocok oleh manajemen dan memiliki pengalaman dalam membangun tim kompetitif.
Sementara itu, Gasperini juga disebut sempat bertemu dengan legenda Roma, Francesco Totti, untuk membahas kemungkinan kembalinya sang ikon ke klub dengan peran yang lebih aktif.
Dengan segala dinamika yang terjadi, posisi Massara dinilai paling rentan. Jika Roma gagal lolos ke Liga Champions, ia berpotensi menjadi “kambing hitam” atas kegagalan proyek musim ini.
