Mudik, bagi sebagian orang, adalah soal pulang. Tapi bagi yang memaksakan diri di jalan, ia bisa berubah jadi ujian—antara ego ingin cepat sampai dan tubuh yang diam-diam meminta berhenti.
Kisah di Ciawi ini menjadi pengingat sederhana, namun sering diabaikan: istirahat bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
Sebab di perjalanan panjang, yang paling berbahaya bukan jalan rusak atau macet, melainkan rasa “kuat” yang dipaksakan.
Baca Juga:PR Zero Alkohol Masih Mengintip: 5.555 Botol Miras Dimusnahkan di Kota TasikmalayaSasana Boxing Rangkul Anak Muda Kota Tasikmalaya, Tebar Ratusan Takjil di Jalan Raya
Beruntung, cerita ini berakhir utuh. Anak kembali ke ayahnya. Dan Tasikmalaya pagi itu, kembali tenang—setelah sempat menyimpan satu pelajaran mahal tentang lelah yang tak diakui. (rezza rizaldi)
