Idul Fitri dan Perayaan Kemenangan Sejati Kemanusiaan

Opini usman kusmana
Usman Kusmana, Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Tasikmalaya
0 Komentar

Saat kita berpuasa, kita dilatih untuk disiplin, taat sepenuhnya ada atau tidak ada manusia. Puasa itu ibadah sirriyah, ibadah rahasia. Orang boleh jadi tidak tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Saat siang di bulan puasa, kita sendirian di rumah, tak ada orang menyaksikan, bisa saja kita mendatangi meja makan dan membuka kulkas dan mengambil makanan dan minuman. Saat keluar rumah orang mungkin masih menganggap kita berpuasa.

Saat berpuasa, kita dilatih menjaga mata, lisan dan perbuatan kita. Kita diajarkan untuk menahan diri. Tidak mudah mengumbar emosi, mengumbar aib orang, ghibah dan fitnah serta mendzalimi orang lain. Karena praktik tersebut hanya akan menghancurkan pahala ibadah puasa kita. Kita hanya dapat lapar dan hausnya semata. Kita menyaksikan bagaimana dunia medsos penuh dengan caci maki dan penyebaran hoax dan fitnah. Mereka menghina pemimpinnya, mereka tak henti mengotori berandanya.

Saat berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga yang luar biasa, badan kita lemas dan lunglai. Padahal kita hanya tidak makan dan minum dari semenjak terbit fajar (sahur) hingga datang saat berbuka di waktu magrib. Di luar Ramadhan boleh jadi kita selalu bebas makan dan berlebih dimana saja yang kita suka. Makanan enak dan mewah. Lalu bagaimanakah mereka yang setiap hari berada dalam kesusahan, yang tinggal di kolong jembatan dan gubuk reyot di pinggir kali, yang mencari satu liter beras saja harus mengais barang bekas di tong sampah?

Idul Fitri Sebagai Kemenangan Kemanusiaan

Baca Juga:Ratusan Pedagang UMKM Jabodetabek Ikut Mudik Gratis Pupuk KujangKisah Pemudik Asal Tasik Dua Hari Arungi Mudik Bogor-Tasik Pakai Motor Rongsok

Saat tiba Hari Raya Idul Fitri, maka perayaan kemenangan sesungguhnya adalah perayaan atas kemenangan kemanusiaan. Yaitu Ketika seorang manusia yang beriman dan bertakwa Kembali kepada jiwa manusia sejatinya. Manusia yang terlatih oleh nilai dan spiritualitas ibadah puasa.

Saat Idul Fitri, kita semestinya berwujud menjadi manusia dengan tampilan baru, yang bersih lahir bersih bathin. Manusia yang sadar akan jiwa kemanusiaannya sebagai hamba allah SWT. Dia yang kini menjadi pribadi rendah hati, emhaty dan peduli sama sesama. Lisannya terjaga, adab sopan santunnya terpelihara.

0 Komentar