Malam Mandalawangi!

hotel mandalawangi
Hotel Mandalawangi
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Malam itu, saya datang ke sebuah tempat yang bagi banyak orang di Tasikmalaya bukan sekadar hotel. Ia lebih mirip markas besar. Markas pergerakan. Markas pertemuan.

Namanya: Hotel Mandalawangi. Saya datang bukan untuk menginap. Saya datang untuk ngobrol. Undangannya sederhana, silaturahmi ba’da tarawih.

Pengundangnya juga bukan orang biasa: Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, H Amir Mahpud. Tempatnya di Bale Panghegar.

Baca Juga:Tim Gabungan Bea Cukai Tasikmalaya dan Jabar Gagalkan Peredaran 664 Ribu Batang Rokok Ilegal di Dua LokasiAlarm Amir Mahpud!

Saya tiba sekitar pukul delapan malam. Waktu yang bagi sebagian orang baru mulai santai. Tapi bagi orang politik, itu justru jam paling produktif untuk berdiskusi.

Kenapa saya datang? Karena kadang untuk memahami arah angin politik Jawa Barat, Anda harus berbicara langsung dengan orang yang meniupnya.

Di Bale Panghegar sudah ada beberapa wajah yang tidak asing. Ada Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Budi Ahdiat. Sosok yang dikenal kalem. Cara bicaranya pelan. Tapi kalau sudah menyangkut rakyat, suaranya bisa tegas.

Lalu ada Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra. Publik mengenalnya sebagai seniman. Tapi dunia politik sudah cukup lama ia jalani. Ada juga anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Irman Rachman.

Sayangnya mereka tidak lama di situ. Ada rapat paripurna yang harus dihadiri. Politik memang sering begitu, baru duduk, sudah harus berdiri lagi.

Tak lama kemudian datang tokoh politik lain: Jeni Jayusman. Mantan anggota DPRD Kota Tasikmalaya. Belakangan ini ia sering terlihat dekat dengan H Amir Mahpud. Orang Tasikmalaya bilang: “lengket.”

Malam itu, H Amir mengenakan sweater abu-abu. Santai. Tidak seperti seorang bos perusahaan transportasi besar. Tidak juga seperti seorang ketua partai tingkat provinsi. Lebih mirip seorang pengusaha yang sedang menikmati malam panjang.

Baca Juga:Viman-Diky Kembali Catatkan Sejarah: Hadapi Lebaran ASN Kota Tasik Menjerit!Doktor Otoy

Percakapan kami mengalir. Dari nasional. Ke provinsi. Lalu berhenti lama di daerah. Topik pertama: ekonomi.

Di titik ini Amir terlihat sangat hidup. Maklum, ia bukan lahir dari ruang rapat politik. Ia lahir dari dunia usaha.

Ia membangun PO Primajasa dari bawah. Dari bisnis transportasi yang keras. Dari persaingan jalanan yang tidak romantis.

0 Komentar