TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Siapa yang tak kenal nama Deddy Mulyana Di Kota Tasikmalaya. Nama itu lebih sering disebut dengan satu julukan. Deddy Otoy. Atau cukup dua huruf. DO.
Kemarin, 12 Maret 2026, usianya genap 46 tahun. Usia yang dalam birokrasi sering disebut, masih muda. Tapi juga sudah cukup matang untuk memimpin.
Apalagi sekarang ia tidak hanya seorang kepala dinas. Ia juga seorang doktor. Gelar itu ia raih dari Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung.
Baca Juga:Soal Kewajiban Upload Menu MBG di Media Sosial, Begini Tanggapan SPPG di DaerahBandara Wiriadinata Mati Suri, Pemkot Tasik Cari Skema Hidupkan Lagi
Disertasinya tidak main-main: Peningkatan Kinerja Aparatur Sipil Negara Berbasis Pengembangan Kompetensi dan Komitmen Organisasi.
Sidang terbukanya berlangsung di auditorium kampus itu, 30 Januari 2025. Nilainya cum laude. Tentu tidak semua kepala dinas punya dua “modal” sekaligus, pengalaman birokrasi dan gelar akademik setinggi itu.
Karier DO memang tidak biasa. Ia memulai dari posisi yang sederhana. Bahkan sangat dekat dengan kekuasaan: ajudan wali kota.
Saat itu wali kota pertama Tasikmalaya adalah H Bubun Bunyamin. Dari situ namanya mulai dikenal.
Bukan karena jabatan. Tapi karena gaya bergaulnya. Ia lalu berpindah-pindah posisi. Pernah menjadi staf di Kecamatan Bungursari. Pernah pula di BPPT. Lalu kembali lagi ke lingkaran wali kota sebagai Sekpri.
Saat wali kota dijabat H Budi Budiman, DO kembali dipercaya menjadi sekretaris pribadi. Setelah itu kariernya makin menanjak. Ia menjadi Kabag Prokopim. Lalu masuk ke jabatan struktural yang lebih tinggi.
Hingga akhirnya pada 25 Januari 2023, ia dilantik oleh Dr Cheka Virgowansyah menjadi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya.
Nama dinasnya panjang. Orangnya justru dikenal sederhana.
Baca Juga:Diajak Hidupkan Lagi Bandara Wiriadinata, Begini Respons Daerah Tetangga Kota TasikmalayaMUI Kota Tasikmalaya Kritik Sistem Tukar Uang Lebaran, Begini Katanya
Ada satu hal yang membuat DO cukup populer di kalangan birokrat Tasikmalaya.
Ia humble. Istilah lain, mudah ditemui. Mudah diajak ngobrol. Tidak berjarak.
Para wartawan mengenalnya. Aktivis LSM juga. Tokoh masyarakat pun akrab dengannya.
Mungkin karena sejak dulu ia berada di titik yang sensitif, dekat pimpinan, tapi juga sering berhadapan dengan publik. Kariernya juga tergolong cepat. Alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri angkatan 2002 itu tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menjadi kepala dinas.
