Pendekatan ini membuat ban depan bekerja lebih stabil dan meminimalkan getaran saat motor berada di sudut kemiringan tinggi.
Teknisi yang mempelajari datanya menyimpulkan bahwa kombinasi presisi garis balap, kontrol gas yang lembut, dan keseimbangan tubuh yang stabil menghasilkan satu hal penting: kecepatan tikungan yang sulit ditiru pembalap lain.
Dari luar, gaya Veda tampak santai. Namun ketika motor mencapai titik apex, ia justru mencatat waktu lebih cepat dibanding banyak rivalnya.
Pencapaian ini menjadi lebih mencolok jika melihat karakteristik kelas Moto3.
Baca Juga:Tiga Pemain Persib Dipanggil Timnas Indonesia untuk FIFA Series Akhir Maret Ini, Berikut Daftar LengkapnyaSayap-Sayap Persib Bandung Jadi Kekuatan Skuad Boja Hodak Taklukkan Persik Kediri, Ini Kata Beckham Putra
Dalam kategori ini, tenaga mesin relatif terbatas sehingga pembalap tidak bisa terlalu mengandalkan akselerasi di lintasan lurus.
Kesalahan kecil saat mengerem atau keluar tikungan bisa membuat waktu satu putaran langsung melorot.
Karena itu, pembalap Moto3 harus menjaga momentum dengan presisi tinggi.
Veda tampaknya memahami prinsip tersebut dengan sangat baik.
Ia mampu mempertahankan kecepatan tikungan tanpa pengereman berlebihan, sebuah teknik yang membuat motornya tetap stabil sekaligus menjaga momentum sepanjang lap.
Konsistensi seperti inilah yang mulai menarik perhatian teknisi dan analis balap Eropa.
Di luar lintasan, Veda dikenal sebagai pribadi yang tenang dan tidak banyak bicara.
Namun ketika visor helm diturunkan dan lampu start padam, fokusnya berubah tajam.
Beberapa pengamat balap menilai mentalitasnya hampir seperti mesin—dingin, stabil, dan jarang menunjukkan kepanikan meski berada dalam duel ketat dengan pembalap Eropa yang lebih berpengalaman.
Ketenangan itu mulai memancing rasa ingin tahu tim-tim besar.
Baca Juga:Rekor Persib di Kandang Sungguh Fantastis, Belum Ada Tim Lolos dari Kekalahan di GBLA, Terbaru Persik Kediri Komentar Marcos Reina Usai Persik Kediri Dihancurkan Persib Bandung di GBLA, Soroti 2 Penalti Pangeran Biru
Kabar yang beredar di paddock menyebutkan bahwa sejumlah tim pabrikan di MotoGP mulai memantau perkembangan pembalap muda Indonesia tersebut.
Mereka melihat potensi jangka panjang, bukan hanya dari sisi performa, tetapi juga dari daya tarik pasar Asia yang sangat besar.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan basis penggemar MotoGP terbesar di dunia, terutama sejak kehadiran Pertamina Mandalika International Street Circuit yang rutin menggelar seri kejuaraan dunia.
Faktor ini membuat kemunculan pembalap Indonesia di level tertinggi balap motor menjadi prospek yang menarik bagi banyak tim.
