IKLH Kota Tasikmalaya Naik, Tapi Realitas Sampah Masih Bergantung pada Truk yang Tak Mogok

indeks kualitas lingkungan hidup Kota Tasikmalaya 2025
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan saat membuka musrenbang Sektoral Dinas Lingkungan Hidup di Aula Bale Wiwitan, Senin (9/3/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Menanggapi kritik tersebut, Viman menyebut fasilitas IPAL memang membutuhkan proses pengolahan lanjutan dan pemeliharaan agar berfungsi optimal.

“Kalau ada kekurangan tentu akan kita evaluasi dan kita perbaiki dengan komitmen,” katanya.

Pemkot Tasikmalaya juga menyiapkan pendekatan pengurangan sampah dari hulu.

Mulai 2027, setiap kecamatan direncanakan memiliki program tematik terkait pengelolaan sampah.

Melalui skema itu, pemerintah kota akan memantau kontribusi tiap wilayah dalam menekan volume sampah yang dikirim ke TPA Ciangir.

Baca Juga:Sekda Umumkan Agenda Libur Panjang Lebaran ASN Kota Tasikmalaya, Tapi Ingatkan hal ini Diky Candra Ingatkan Musrenbang Kota Tasikmalaya Jangan Sekadar Formalitas

Sebagai gambaran, jika satu kecamatan saat ini mengirim sekitar 12 ton sampah per hari, maka dalam beberapa bulan ke depan akan dievaluasi apakah jumlah tersebut berhasil ditekan setelah program berjalan.

Di sisi lain, data teknis dari Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan tantangan pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya masih cukup berat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya Sandi Lesmana menyebut produksi sampah masyarakat saat ini mencapai sekitar 120 ton per hari.

Angka itu berasal dari rata-rata produksi sampah warga yang mencapai 0,4 kilogram per orang per hari.

Jika dikonversi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 300 hingga 350 meter kubik sampah yang harus diangkut setiap hari.

Persoalan lain yang tak kalah klasik adalah keterbatasan armada pengangkut sampah.

Saat ini pengangkutan sampah di Kota Tasikmalaya ditopang sekitar 40 unit truk.

Baca Juga:Di Kota Tasikmalaya THR Bisa Jadi Tunjangan Hari Syawal (THS)!Ini Nasihat Ketua MUI Kota Tasikmalaya soal Konser Musik Usai Lebaran: Momentumnya Dijaga!

Jumlah tersebut dinilai sudah berada di batas minimal untuk melayani kebutuhan pengangkutan harian.

Masalah muncul ketika ada kendaraan yang rusak atau harus masuk bengkel.

“Kalau dihitung sekarang sebenarnya cukup, tapi limit sekali. Begitu ada satu atau dua armada mogok, penumpukan sampah di lapangan bisa terjadi,” kata Sandi.

Ia menambahkan hampir seluruh armada memiliki kondisi yang bervariasi, dari yang masih relatif baik hingga yang membutuhkan perbaikan.

Karena itu, DLH menilai perlu tambahan dua hingga lima unit armada sebagai kendaraan cadangan agar pengangkutan sampah tidak langsung lumpuh ketika ada truk yang bermasalah.

Di tengah klaim keluhan masyarakat yang menurun, fakta produksi sampah yang terus meningkat dan armada yang masih “pas-pasan” menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya selesai—setidaknya sampai sistemnya benar-benar kuat, bukan sekadar kuat di atas kertas. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar