Ketika penjualan tidak stabil—yang dalam dunia UMKM sebenarnya hal biasa—Abdillah memilih melakukan evaluasi daripada menyalahkan keadaan.
Baginya, etika dagang adalah investasi jangka panjang yang nilainya sering kali lebih mahal daripada sekadar keuntungan harian.
Jejak kepemimpinannya sebenarnya sudah tampak sejak masa sekolah di SMAN 1 Ciawi.
Baca Juga:Dari Nuzulul Qur’an, Pemkot Kota Tasikmalaya Perkuat Gerakan Generasi Penghafal Al-Qur’anTakjil Dibagikan, Al-Qur’an Dikhatamkan: Cara SOG Chapter Tasikmalaya Mengisi Ramadan!
Ia pernah dipercaya menjadi Juru Adat Pramuka dan meraih Juara 2 Music Performer tingkat kabupaten.
Pengalaman itu membentuk kepercayaan diri sekaligus kemampuan berorganisasi yang kini membantu dalam mengelola usaha.
Aktivitasnya juga tidak berhenti di dunia bisnis. Pada 2020, Abdillah mendirikan komunitas Kawan Satu Frekuensi, sebuah wadah anak muda untuk menghimpun donasi dan menjalankan program kemanusiaan.
Sejak 2025, ia dipercaya menjadi Koordinator Dompet Dhuafa Volunteer Chapter Tasikmalaya di bawah Dompet Dhuafa, sekaligus menjadi peserta Kongres Nasional Dompet Dhuafa Volunteer 2025.
Di sana, ia mengasah kemampuan fundraising dan memperluas jaringan gerakan sosial.
Meski aktif di berbagai bidang, Abdillah tetap menjadikan UMKM sebagai ruang belajar utamanya. Lapak lumpia basah itu bukan hanya tempat mencari penghasilan, tetapi juga tempat memahami risiko, ketelitian, dan ketekunan.
Di tengah narasi anak muda yang sering terjebak antara idealisme dan realitas, Abdillah memilih jalan yang lebih sederhana: bekerja pelan tapi konsisten.
Baca Juga:Dari Ring ke Aksi Sosial: Indoboxing Santuni dan Buka Puasa Bersama 243 Anak Yatim Kota TasikmalayaViman Sentil Kadiskominfo Kota Tasikmalaya: Jangan Bangun “Rumah Digital” Tapi Isinya Kosong
Dari sebuah lapak di Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, ia menunjukkan bahwa UMKM bukan sekadar soal jualan.
Ia bisa menjadi ruang pembentukan karakter—tentang kemandirian, integritas, dan kebermanfaatan yang tumbuh perlahan, setenang proses seorang mahasiswa tasawuf belajar memahami hidup. (ayu sabrina barokah)
