Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Gaung Kadis Impor yang Belum Terdengar (part2)

Kadis impor kabupaten tasik
Ilustrasi: AI.ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sudah hampir dua bulan sejak Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin melantik dua “pemain transfernya”. Waktu dua bulan dalam birokrasi memang belum lama. Tapi juga bukan hitungan hari.

Biasanya, pejabat baru akan membuat gebrakan awal. Minimal konferensi pers. Paparan program 100 hari. Kunjungan lapangan yang menyita perhatian. Atau setidaknya pernyataan tegas tentang arah kebijakan.

Namun hingga kini, gaung itu belum benar-benar terdengar. Nama Deden Ramdan Nugraha belum banyak muncul dalam diskursus publik soal infrastruktur.

Baca Juga:Tali Kasih Polres Tasikmalaya Melalui Gerakan Pangan Murah di Bulan RamadanTransfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Dua Kadis dari Purwakarta dan Kementerian (part 1)

Padahal PUPR adalah etalase paling kasat mata. Jalan berlubang, drainase mampet, proyek fisik—semuanya cepat jadi bahan obrolan warga.

Begitu pula Wandi Herviandi. Dunia pendidikan Tasik tidak sedang sepi isu. Soal mutu, soal distribusi guru, soal sarana prasarana. Tapi publik belum menangkap arah baru yang tegas dari nakhoda Disdikbud yang baru. Apakah mereka sedang bekerja senyap Atau masih sibuk membaca peta?

Masuk dari luar daerah tentu tidak mudah.

Tasikmalaya bukan hanya soal administrasi. Ia punya kultur. Punya jejaring. Punya ritme sosial dan politik yang khas. Punya dinamika internal ASN yang tidak bisa dipelajari hanya dari dokumen.

Pejabat impor harus menaklukkan dua hal sekaligus yakni teknis pekerjaan dan psikologi organisasi.

Yang pertama bisa dipelajari dari laporan. Yang kedua hanya bisa dipahami dengan waktu dan kepekaan.

Bisa jadi dua bulan ini mereka gunakan untuk konsolidasi internal. Menata meja. Menyusun tim. Mengidentifikasi titik rawan. Menyelaraskan dengan RPJMD yang ditekankan bupati.

Tetapi di ruang publik, kesenyapan sering ditafsirkan macam-macam. Ada yang mulai berbisik: “Mana gebrakannya?” Ada yang lebih tajam: “Jangan-jangan sama saja.”

Baca Juga:Menjaga Kepercayaan!Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"

Padahal ekspektasi sejak awal sudah tinggi. Karena mereka datang dengan label khusus, pilihan langsung bupati dari luar Tasik. Label itu adalah kehormatan. Sekaligus beban.

Bagi kalangan ASN, dua bulan tanpa gaung memperpanjang ruang tanya. Jika impor dilakukan demi percepatan dan kualitas, maka publik tentu berharap terlihat akselerasinya. Minimal arah yang berbeda dari sebelumnya.

0 Komentar