Namun, struktur pasokan pangan Kota Tasikmalaya menunjukkan ketergantungan terhadap daerah lain masih tinggi.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Sofian Zaenal Mutaqien, mengakui kondisi tersebut.
“Untuk sementara cukup, belum ada keluhan. Tapi kalau dibilang Kota Tasik bisa menyuplai sendiri, ya tidak mungkin, karena tidak ada potensi produksinya,” kata Sofian, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana
Ia menjelaskan, komoditas strategis seperti beras dan minyak goreng relatif aman karena disuplai Bulog. Namun untuk hortikultura dan sayuran, sebagian besar berasal dari luar daerah.
“Pemasok itu dari Garut. Kalau yang sekarang lagi naik, cabai rawit dari Cisayong. Produk yang benar-benar asli Kota Tasik hampir tidak ada. Paling hanya skala kecil, satu dapur dua dapur,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, potensi perputaran Rp300 miliar dari MBG menghadapi tantangan struktural. Jika bahan pangan mayoritas didatangkan dari luar kota, arus belanja program berpotensi ikut mengalir keluar bersama pasokan komoditas.
Di satu sisi, APBD menyusut dan belanja diperketat. Di sisi lain, ada potensi arus uang besar dari program pusat. Besarnya dana yang beredar belum tentu berbanding lurus dengan dampak ekonomi lokal jika rantai pasok masih bergantung pada daerah lain.
Tasikmalaya kini berada di persimpangan: menjadi pusat konsumsi semata, atau membangun rantai produksi agar nilai tambah tetap tinggal di dalam kota. (Rezza Rizaldi)
